Gejolak Ekonomi Politik Global, Adidaya Institute Dorong Transformasi MBG Jadi Platform Ekonomi Pangan Terintegrasi
JAKARTA – Porosnusantara co id. Adidaya Institute meminta pemerintah mengubah model program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari program pemberian makan menjadi platform ekonomi pangan terintegrasi. Adidaya menilai model pemberian makan sudah tidak lagi memadai karena hanya berorientasi pada distribusi makanan dan serapan anggaran.
“MBG terlalu sederhana jika dibiarkan hanya menjadi program distribusi makanan. MBG harus ditransformasi menjadi mesin ekonomi pangan nasional,” kata Ekonom Adidaya Institute Bramastyo B Prastowo dalam dialog media yang berlangsung di kantor Adidaya Institute di Kuningan, Selasa (31/3) siang.
Menurut Bram, pergeseran ini bukan sekadar perubahan model. Perubahan skema ini adalah perubahan cara negara memandang program ini. Dari kerangka belanja sosial menjadi investasi ekonomi, dari output (porsi tersaji) menjadi outcome (ekosistem pangan yang tumbuh), dan dari program jangka pendek menjadi fondasi ketahanan pangan jangka panjang.
Pasalnya, ungkap Bram, jika hanya dipandang sebagai program konsumsi maka pada setiap gejolak global seperti saat terjadinya perang Iran versus Israel-AS, keberlanjutan program MBG pasti sangat terancam. Selain menyebabkan biaya yang naik, program MBG pasti akan menyebabkan tekanan pada fiskal negara.
Bram menjelaskan selama MBG didesain hanya sebagai program konsumsi, maka setiap gejolak global pasti akan langsung menghantam keberlanjutannya. Biaya naik, kualitas porsi terancam, cakupan menyempit, dan tekanan pada fiskal negara makin berat.
“Kalau MBG tetap pakai model lama, kita sedang membangun gunung es fiskal. Setiap hari biaya naik, tapi ekonomi lokal tidak bergerak. Tanpa perubahan desain kebijakan, MBG berisiko menjadi beban anggaran yang terus membesar tanpa dampak struktural yang sebanding. Dalam situasi global seperti sekarang, diam adalah pilihan paling mahal,” ungkap Bram.






