Ghost in the Cell” Angkat Risiko Jurnalis dan Kritik Sosial, Joko Anwar: Film Harus Menghibur tapi Tetap Punya Sikap

Porosnusantara.co.id |Jakarta, 23 Februari 2026 — Film terbaru berjudul Ghost in the Cell resmi meluncurkan trailer perdananya dalam konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (23/2/2026). Film yang disutradarai Joko Anwar ini disebut terinspirasi dari realitas sosial tentang risiko yang dihadapi jurnalis serta isu kebebasan pers.

Dalam sesi tanya jawab, Joko menegaskan bahwa film tetap harus menjadi medium hiburan, namun tidak boleh kehilangan relevansi sosialnya.

“Orang datang ke bioskop untuk hiburan. Tapi akan sia-sia kalau kita bekerja tanpa melihat masalah di sekitar. Film ini tetap entertainment, tapi ketika pulang, mudah-mudahan ada yang mereka pikirkan,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah Ghost in the Cell bisa dibaca sebagai kritik sosial dan apakah ada kekhawatiran mengangkat tema sensitif, Joko tidak secara gamblang menyebut adanya tekanan. Namun ia menekankan pentingnya sikap dalam berkarya.

Film ini menampilkan 42 adegan yang sebagian besar dieksekusi dengan teknik one take long shot, bahkan dalam satu pengambilan bisa mencapai 1 hingga 15 halaman naskah. Pendekatan teknis tersebut diakui menjadi tantangan berat bagi kru dan pemain.

Sinematografer Jaisal Tanjung disebut bekerja dalam tekanan tinggi selama proses pengambilan gambar. Meski demikian, para pemain justru mengaku menikmati proses tersebut.

Tantangan Panjang Dialog hingga Idealime Anak Muda

Danang Suryonegoro mengungkapkan dirinya mendapatkan dialog panjang yang menuntut konsentrasi tinggi.

“Sulitnya ada, terutama menghafal dialog panjang. Tapi karena dilakukan bareng-bareng, jadi bisa jalan dan malah menyenangkan. Sukanya lebih banyak dari sulitnya,” katanya.

Sementara itu, Mike Lucock mengaku tertantang karena harus keluar dari tipikal peran antagonis yang biasa ia mainkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *