“Biasanya saya jadi antagonis. Di sini berbeda, lebih religius. Itu jadi tantangan baru.”
Aming bahkan menyebut karakter yang ia perankan sebagai salah satu yang terbaik sepanjang kariernya.
“Karakter ini unik. Salah satu yang terbaik sepanjang karier saya,” ujarnya.
Adapun Dewa Dayana menyoroti sisi ideologis dalam film.
“Saya menangkap simbol idealisme anak muda yang bisa menjadi jinak karena kenyamanan sistem,” katanya.
Pernyataan tersebut menguatkan dugaan bahwa film ini tidak sekadar thriller, melainkan juga memuat refleksi sosial tentang tarik-menarik idealisme dan kekuasaan.
“Tidak Ada Peran Besar atau Kecil”
Almanzo Konoralma menjelaskan bahwa pendekatan karakter dalam film ini dirancang kolektif.
“Tidak ada peran besar atau kecil. Semua sesuai fungsi masing-masing dalam cerita.”
Hal serupa disampaikan Lukman Sardi yang menekankan pentingnya koneksi antar pemain.
“Yang paling penting bagaimana kita berkoneksi satu sama lain. Itu yang membuat prosesnya menyenangkan,” ujarnya.
Sementara Morgan Oey mengaku salah satu alasan menerima proyek ini adalah keinginannya untuk beradu akting dengan Abimana Aryasatya.
Film ini juga menjalani proses syuting lintas negara, termasuk di Berlin, Jerman. Perbedaan budaya dan teknis produksi disebut menjadi tantangan tersendiri, namun para kru dan pemain mengaku menikmati pengalaman tersebut.
Soal Casting dan Produksi
Menjawab pertanyaan media terkait pemilihan pemain dan anggaran produksi, tim menyebut casting dilakukan berdasarkan kecocokan karakter. Sekitar 20 persen pemeran merupakan wajah baru.
Ketika ditanya soal besaran biaya produksi, pihak film tidak mengungkap angka spesifik, namun memastikan film ini diproduksi dengan standar tinggi.
Menariknya, lagu anak “Cicak-cicak di Dinding” turut menjadi elemen simbolik dalam film. Dalam diskusi, disebutkan bahwa “hantu” dalam film ini bukan sekadar makhluk supranatural, melainkan bisa dimaknai sebagai karakter atau metafora.






