Sejarah Singkat Desa Wayaloar Obi Selatan 2025
Sejarah Desa Wayaloar di Pulau Obi, Maluku Utara, menceritakan perjalanan panjang penduduknya yang dipenuhi dengan adaptasi, ketahanan, dan warisan budaya yang kaya.
*Masa Awal (Goa Aru)*
Jejak sejarah Desa Wayaloar dimulai di Goa Aru, sebuah gua yang terletak sekitar 1,5-2 km dari lokasi desa saat ini. Ribuan tahun silam, nenek moyang penduduk Wayaloar hidup sebagai pemburu dan nelayan nomaden di gua tersebut. Mereka hidup selaras dengan alam, mempercayai roh-roh hutan (“Meki”), dan melakukan ritual “Slabe” untuk meminta berkah, Gomahate, dll. Di Goa Aru, ditemukan kapak batu lonjong, artefak yang menjadi bukti kehidupan mereka di era prasejarah.
*Perpindahan ke Baromadoto (Wai Lower)*
Sekitar abad ke-16, nenek moyang penduduk Wayaloar memutuskan untuk bermukim di Baromadoto. Mereka mendirikan kampung dan menamai desa tersebut “Wai Lower”, yang merujuk pada muara sungai yang dangkal di daerah tersebut. Perubahan cara hidup ini menandai awal Zaman Sejarah desa. Namun, kondisi rawa di Baromadoto yang kurang sehat menjadi ancaman bagi kesehatan penduduk.
*Masa Pemerintahan Hindia Belanda (Wayaloar):*
Pada tahun 1916, Pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem kotamadya di Pulau Obi. Desa Wayaloar, bersama dengan tiga desa lain (Fluk-Bobo-Wooi), dibentuk menjadi salah satu dari empat kotamadya di pulau tersebut. Sistem pemerintahan ini dipimpin oleh kepala kotamadya yang diangkat oleh pengawas (perwakilan pemerintah Hindia Belanda) sesuai dengan keinginan penduduk dan dibantu oleh seorang Mahimo pilihan rakyat.
*Peran Cacatu dan Perpindahan ke Wayaloar*
Pada tahun 1951, di bawah kepemimpinan Cacatu, seorang kepala kampung yang bijaksana, penduduk desa memutuskan untuk pindah ke lokasi desa Wayaloar saat ini. Alasan perpindahan adalah kondisi lingkungan di Baromadoto yang kurang sehat. Cacatu memimpin penduduk menuju lokasi yang lebih sehat dan mendukung kehidupan mereka.






