Porosnusantara.co.id – Petani champion bawang menilai budidaya bawang merah dan bawang putih di era Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sangat berpihak kepada kepentingan petani. Pasalnya, gebrakan Mentan Amran tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tapi juga berani memasukan importir nakal dalam kotak hitam yang menjadi ganjalan petani menikmati untung.
“Terimakasih Pak Mentan Amran, berani dan sukses blacklist 74 importir bawang nakal. Kami tidak lagi bergantung pada permainan importir nakal, sehingga kami merasakan hasil yang bagus dan untung,” ujar Tunov Mondro Atmojo, petani champion sekaligus mitra kerja importir yang melaksanakan wajib tanam bawang putih di Magelang, Selasa (2/7/2019).
Ia menjelaskan selama lebih dari 23 tahun nasib bawang putih lokal terbengkelai akibat gempuran impor. Namun demikiam, hanya kurun waktu 2 tahun terakhir, komoditas bawang putih mampu dibangkitkan kembali.
“Sentra-sentra bawang putih yang dulu pernah berjaya, kini kembali bergeliat bangkit,” akuinya.
Faktanya, beber Tunov, dulu lereng gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, Andong hingga Telomoyo adalah kawasan bawang putih. Puluhan tahun lamanya sentra bawang putih seperti Kecamatan Kaliangkrik, Kajoran, Sawangan, Windusari, Parakan, Petarangan, Pakis hingga Getasan Semarang tiarap bahkan mati tidak berproduksi.
“Lah kok ini bisa-bisanya Pak Menteri bangkitkan kembali. Ini luar bisa menurut saya. Hebatnya lagi, importir bisa dirangkul untuk sama-sama tanam bawang putih bermitra dengan petani. Impor bawang putih dikendalikan, sambil produksi dalam negeri ditingkatkan,” sebutnya.
“Bahkan importir nakal yang tidak patuh aturan tak segan-segan beliau blacklist. Ini kebijakan yang berani, keren dan pantas didukung,” tambahnya.






