Membangun Generasi yang Berpengetahuan dan Berempati
Pendidikan yang bermakna bukan hanya menghasilkan manusia yang cerdas, berprestasi, dan berhasil secara ekonomi. Pendidikan juga perlu membuka kesempatan bagi setiap orang untuk mengembangkan integritas, memahami persoalan di sekitarnya, dan bertanggung jawab atas dampak tindakannya terhadap orang lain.
Tentu saja, empati dan tanggung jawab sosial tidak tumbuh melalui pendidikan formal semata. Keduanya juga dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan pergaulan, pengalaman hidup, keteladanan, serta kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan sosial.
Karena itu, penguatan literasi perlu berjalan bersama pembentukan karakter. Buku dapat membuka wawasan, sastra dapat menghadirkan refleksi tentang pengalaman manusia, perpustakaan keliling dapat memperluas akses pengetahuan, dan pendidikan keluarga dapat mendukung tumbuhnya kebiasaan positif sejak dini.
Melalui penerjemahan karya sastra, pengembangan perpustakaan keliling, dan pendidikan keluarga, saya berharap dapat mengambil bagian dalam upaya membangun masyarakat yang lebih literat, peduli, dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya terletak pada seberapa tinggi seseorang mencapai prestasi, tetapi juga pada bagaimana pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya digunakan secara bijaksana untuk memperbaiki kehidupan bersama.
—
Daftar Referensi
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Pendidikan 2024. Jakarta: BPS. Tabel 5.6, “Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Karakteristik Demografi dan Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2024.” Data bersumber dari Susenas Maret 2024. https://www.bps.go.id
UNESCO. (2021). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education. Paris: UNESCO. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000379707






