Pendidikan Tidak Cukup Berorientasi pada Prestasi
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Pendidikan 2024, Tabel 5.6, menunjukkan bahwa sekitar 10,20% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas telah menamatkan pendidikan perguruan tinggi pada 2024. Data tersebut bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024.
Angka ini memberikan gambaran mengenai tingkat pendidikan penduduk Indonesia. Namun, capaian pendidikan formal tidak dapat digunakan secara langsung untuk mengukur kualitas karakter, empati, atau kepedulian sosial seseorang. Aspek-aspek tersebut membutuhkan indikator dan penelitian tersendiri.
Dengan demikian, tantangan pendidikan bukan hanya memperluas akses menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tetapi juga memastikan bahwa proses pembelajaran memberikan ruang bagi pengembangan etika, tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis, dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
Perspektif tersebut sejalan dengan laporan UNESCO, Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education (2021). Laporan ini menekankan pentingnya pendekatan pendidikan yang berlandaskan kerja sama dan solidaritas, sehingga peserta didik mampu belajar bersama, menghargai perbedaan, dan berkontribusi bagi masa depan bersama.
Pendidikan, dengan demikian, tidak seharusnya hanya dipahami sebagai jalan untuk mencapai keberhasilan individual. Pendidikan juga perlu membantu manusia memahami bahwa ilmu pengetahuan, keterampilan, dan keberhasilan pribadi dapat digunakan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Tiga Program untuk Memperkuat Literasi dan Karakter
Atas dasar pemikiran tersebut, saya mengusulkan tiga program yang berorientasi pada pengembangan literasi, pendidikan keluarga, dan kepedulian sosial.






