Porosnusantara.co.id| Mojokerto- Upaya membangun kembali kekuatan maritim Indonesia dinilai tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur dan pengembangan teknologi. Kualitas sumber daya manusia yang memiliki karakter, disiplin, semangat juang, serta kemampuan berprestasi menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan cita-cita tersebut.
Pandangan itu menjadi perhatian Kolonel Marinir Kakung Priyambodo dalam mendorong pembinaan generasi muda melalui kegiatan Jung Kwatu. Menurutnya, pembentukan karakter sejak usia muda merupakan bagian penting dalam menyiapkan generasi yang mampu berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia sebagai negara maritim.
Jung Kwatu tidak hanya diarahkan sebagai wadah olahraga dayung, tetapi juga menjadi sarana pembinaan karakter bagi generasi muda. Melalui latihan dan kompetisi, para peserta diperkenalkan dengan nilai-nilai disiplin, kepemimpinan, kerja sama, keberanian, sportivitas, serta ketangguhan.
“Saya ingin Jung Kwatu menjadi tempat anak-anak muda belajar tentang kehidupan. Dayung adalah medianya, prestasi adalah hasilnya, tetapi karakter adalah tujuan utamanya,” kata Kakung Priyambodo.
Ia menilai olahraga memiliki peran penting dalam membentuk mental generasi muda. Setiap pencapaian tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui latihan, kedisiplinan, evaluasi, kegagalan, dan konsistensi.
Karena itu, menurut Kakung, orientasi pembinaan tidak semata-mata mengejar kemenangan dalam kompetisi, tetapi juga membentuk mental dan sikap yang dapat menjadi bekal bagi peserta dalam menjalani kehidupan.
“Jangan hanya mengejar anak menjadi juara. Kita harus membentuk anak yang memiliki mental juara. Karena medali bisa disimpan, tetapi karakter akan dibawa sepanjang hidup,” ujarnya.
Gagasan tersebut juga berkaitan dengan upaya membentuk generasi muda yang memiliki wawasan dan kebanggaan terhadap identitas Indonesia sebagai negara kepulauan. Generasi muda diharapkan tidak hanya melihat laut sebagai bagian dari wilayah geografis, tetapi juga memahami potensi besar Indonesia sebagai negara maritim.
Melalui Jung Kwatu, nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kegiatan yang dekat dengan kehidupan peserta. Aktivitas dayung menjadi sarana untuk mengenalkan kerja sama, kedisiplinan, keberanian menghadapi tantangan, serta semangat berkompetisi secara sehat.
Kakung menekankan bahwa pembentukan karakter membutuhkan proses yang panjang dan tidak dapat dilakukan secara instan. Menurutnya, diperlukan pendampingan, keteladanan, serta pembinaan yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Ia berharap pembinaan generasi muda melalui kegiatan tersebut dapat melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya berprestasi di bidang olahraga, tetapi juga memiliki karakter kuat dan kepedulian terhadap masa depan kemaritiman Indonesia.
“Saya percaya, jika kita ingin melihat Indonesia menjadi negara maritim yang kuat, maka hari ini kita harus berani membina manusianya. Kita tanamkan karakter, kita dorong prestasi, kita dekatkan mereka dengan dunia bahari,” pungkas Kakung.






