Syamsul menjelaskan bahwa keberadaan dapur MBG memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat sekitar. Ia mencontohkan satu dapur MBG yang melibatkan puluhan tenaga kerja dari lingkungan setempat.
“Di satu dapur ada sekitar 47 pekerja yang berasal dari masyarakat sekitar. Itu memang arahan Presiden Prabowo agar masyarakat sekitar dilibatkan. Satu dapur melayani sekitar 2.800 hingga 3.000 penerima manfaat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyebut manfaat MBG tidak hanya dirasakan tenaga kerja dapur, tetapi juga pelaku usaha dan sektor produksi pangan.
“Belum lagi supplier dari UMKM, koperasi, CV pemasok bahan makanan, petani, dan peternak. Semua terlibat dalam rantai ekonomi ini. Orang yang belum turun ke lapangan sering kali tidak memahami dampak besarnya,” ungkapnya.
Menanggapi berbagai aksi demonstrasi yang menuntut penghapusan Program MBG, Syamsul menegaskan bahwa demonstrasi merupakan bagian dari sistem demokrasi yang sah. Namun, ia mengingatkan agar kritik tidak mengabaikan manfaat nyata yang telah dirasakan masyarakat.
“Demo itu tidak apa-apa karena negara kita demokrasi. Tetapi jangan sampai kebablasan. Program yang baik harus tetap didukung dan dikawal,” katanya.
Menurut Syamsul, persoalan yang muncul dalam pelaksanaan MBG lebih banyak disebabkan oleh oknum tertentu, bukan karena programnya.
“Yang salah itu oknum-oknumnya. Kita semua sudah mengikuti perkembangan kasus-kasus yang sedang diproses aparat penegak hukum. Serahkan saja kepada hukum. Jangan programnya yang disalahkan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa para pimpinan organisasi relawan yang hadir dalam Rakornas GPN 08 berkomitmen mendukung program pemerintah dan mengawal pelaksanaannya di lapangan.
“Kami mendukung programnya. Saya sendiri militan di akar rumput dan melihat langsung bagaimana masyarakat senang karena mendapatkan pekerjaan dan manfaat dari program ini,” ujarnya.






