Mengasihi Sesama: Ujian Kedewasaan Iman Orang Percaya

Porosnusantara.co.id |

Jakarta — Dalam hidup sehari-hari, manusia sering tanpa sadar membandingkan dirinya dengan orang lain. Ada yang tampak lebih berhasil, rumahnya lebih besar, pakaiannya lebih indah, dan kehidupannya penuh kelimpahan. Saat itu datang, hati manusia mudah tergoda iri atau merasa tidak puas.

Namun Yesus memanggil orang percaya untuk melihat sesama dengan cara berbeda. Ia tidak berkata, “Bandingkanlah dirimu dengan sesamamu,” tetapi, “Kasihilah sesamamu manusia” (Matius 5:43).

Kasih memiliki kuasa untuk memerdekakan hati dari belenggu iri hati. Orang yang belajar mengasihi tidak lagi melihat berkat orang lain sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari kebaikan Tuhan. Hati yang dipenuhi kasih akan belajar bersyukur atas bagian yang Tuhan percayakan kepadanya.

Sebaliknya, ada yang hidup dalam kelimpahan. Kekayaan, kenyamanan, dan kedudukan kadang membuat seseorang memandang rendah orang lain. Padahal di hadapan Tuhan, setiap manusia setara—semua hidup oleh kasih karunia-Nya. Alkitab menegaskan, “Dari satu orang saja Allah telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi” (Kisah Para Rasul 17:26). Nilai manusia di hadapan Tuhan tidak ditentukan harta, pakaian, atau kedudukan, tetapi oleh kasih karunia-Nya.

Mengasihi sesama tidak selalu mudah. Ada kalanya kebaikan kita tidak dihargai. Ada saat kasih dibalas dingin, bahkan dengan kata-kata yang melukai. Dalam keadaan itu, hati bertanya, “Mengapa harus terus mengasihi?”

Di sinilah iman diuji. Kasih sejati tidak bergantung pada respons manusia, tetapi lahir dari hati yang ingin menyenangkan Tuhan. Memilih mengasihi meski tidak dihargai adalah meneladani hati Kristus sendiri. Yesus mengasihi manusia bukan karena mereka setia, tetapi karena kasih adalah sifat-Nya. Bahkan saat menghadapi penolakan, pengkhianatan, dan penderitaan di salib, kasih-Nya tidak pernah berubah.

Kasih yang Tuhan tanamkan dalam hati setiap orang percaya adalah kasih yang tidak mudah padam, tidak berhenti karena kekecewaan, dan tetap bertahan meski jalannya tidak mudah.

Hari ini mungkin ada orang yang sulit dikasihi—yang pernah melukai hati kita atau meremehkan kebaikan kita. Firman Tuhan mengingatkan bahwa setiap tindakan kasih yang dilakukan tidak pernah sia-sia. Walaupun manusia tidak melihatnya, Tuhan melihat. Walaupun manusia menolaknya, Tuhan menerima.

Setiap langkah kasih yang diambil membawa orang percaya semakin dekat dengan jejak Kristus.

Satu hal sederhana tetapi sangat dalam menjadi inti ajaran ini: Kasihilah sesamamu manusia. Di situlah kasih menjadi nyata, dan di situlah iman orang percaya menunjukkan kedewasaannya.

Penulis: AxnesEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *