Ketika Pena Menjadi Mezbah: Jurnalisme dalam Cermin Alkitab

Yohanes Pembaptis memberi gambaran tentang keberanian moral itu. Ia menegur ketidakadilan, bahkan ketika yang ditegur adalah penguasa. Ia tahu risikonya, tetapi ia memilih setia pada kebenaran.

“Tidak halal engkau…”
(Markus 6:18)

Kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa menyampaikan kebenaran sering kali menuntut keberanian. Jurnalisme yang sejati pun demikian. Ia tidak dibangun di atas ketakutan, melainkan integritas.

Namun Injil juga mengajarkan keseimbangan. Rasul Paulus menulis:

“Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih…”
(Efesus 4:15)

Kebenaran tanpa kasih dapat menjadi keras dan melukai. Kasih tanpa kebenaran menjadi rapuh dan menyesatkan. Jurnalisme yang melayani Tuhan adalah jurnalisme yang berani sekaligus adil, tegas sekaligus bijaksana.

Yesus Kristus sendiri berkata:

“Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
(Yohanes 8:32)

Maka setiap kali seorang jurnalis menulis dengan jujur, menyelidiki dengan sungguh-sungguh, dan menolak manipulasi, ia sedang mengambil bagian dalam pekerjaan memerdekakan. Ia menjadi saksi bahwa terang masih ada di tengah kebisingan dunia.

Dan Tuhan menghargai kesetiaan dalam perkara kecil:

“Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”
(Lukas 16:10)

Pelayanan jurnalistik mungkin tidak selalu terlihat rohani di mata manusia. Tidak selalu berdiri di panggung gereja. Tidak selalu disertai tepuk tangan. Tetapi ketika pena dipakai untuk kebenaran, ketika tulisan lahir dari hati yang takut akan Tuhan, maka ruang redaksi pun dapat menjadi ladang pelayanan.

Alkitab memang tidak menyebut kata “jurnalis”. Namun Alkitab berbicara tentang saksi, tentang penulis, tentang penyampai kabar baik, tentang penjaga kebenaran. Dan di sanalah kita menemukan cerminnya.

Penulis: AxnesEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *