Meski demikian, Alkitab tidak pernah mendorong sikap pasif terhadap pertumbuhan iman. Justru karena kita telah diangkat menjadi anak, kita dipanggil untuk hidup sesuai dengan identitas tersebut. Di sinilah karya pengudusan (sanctification) berlangsung—sebuah proses di mana Roh Kudus membentuk hidup orang percaya agar semakin serupa dengan Kristus.
Iman yang sejati, sekalipun kecil, akan bertumbuh.
Kasih yang sejati akan semakin mendalam.
Dan pengenalan akan Allah akan semakin jelas seiring perjalanan iman.
Rasul Paulus tidak hanya berhenti pada identitas, tetapi juga mengarahkan pada kehidupan yang dipimpin oleh Roh. Dalam Roma 8:15 ditegaskan bahwa Roh Kudus memampukan kita berseru, “Abba, ya Bapa.” Ini bukan sekadar ungkapan emosional, melainkan realitas relasi yang hidup antara Allah dan umat-Nya.
Dengan demikian, kehidupan orang percaya berdiri di atas dua pilar utama:
- Kepastian identitas sebagai anak Allah oleh iman.
- Panggilan untuk bertumbuh dalam iman oleh karya Roh Kudus.
Keduanya tidak dapat dipisahkan.
Jika hanya menekankan identitas tanpa pertumbuhan, iman menjadi stagnan.
Jika hanya menekankan pertumbuhan tanpa dasar identitas, iman menjadi beban.
Injil memegang keduanya dalam keseimbangan yang sempurna.
Akhirnya, setiap orang percaya—baik yang lemah maupun yang kuat—memiliki satu pengharapan yang sama: bahwa ia adalah milik Allah, dipelihara oleh kasih-Nya, dan sedang dibentuk menuju kesempurnaan di dalam Kristus.
Maka, ketika kita datang kepada Allah dan memanggil-Nya “Bapa,” kita datang bukan dengan rasa takut sebagai hamba yang ditolak, melainkan dengan keyakinan sebagai anak yang diterima.
Dan dari titik itulah, pertumbuhan iman yang sejati dimulai.






