“Diskusi ini menjadi ruang awal untuk merumuskan gagasan dan masukan yang akan dibawa delegasi Indonesia ke forum internasional,” ujarnya.
Zainal juga menyoroti kompleksitas persoalan agraria saat ini, mulai dari konflik lahan hingga dampak berbagai program strategis nasional terhadap kehidupan petani.
Salah satu penulis buku, Saturnino M. Borras Jr., menegaskan bahwa pengetahuan tidak hanya lahir dari kampus. Menurutnya, pengetahuan yang tumbuh dari komunitas petani, masyarakat adat, dan gerakan sosial memiliki nilai yang setara dengan pengetahuan akademik.
“Tidak ada hierarki antara pengetahuan akademik dan pengetahuan gerakan sosial. Keduanya sama-sama penting untuk mendorong perubahan sosial,” ujarnya.
Sementara itu, Ben White menjelaskan bahwa bukunya Pertanian dan Masalah Generasi membahas persoalan generasi muda pedesaan yang kerap terpinggirkan dari akses tanah. Banyak anak muda desa, menurutnya, berada dalam posisi “tidak bertanah” meski orang tua mereka memiliki lahan.
“Generasi muda harus didengar aspirasinya. Mereka perlu diperlakukan sebagai subjek, bukan objek,” tegas Ben.
Ketua Umum SPI, Henry Saragih, menilai ketiga buku tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk memahami dinamika dan perjuangan agraria, termasuk munculnya gerakan petani di tingkat internasional.
“Buku-buku ini membantu pembaca memahami bagaimana petani di berbagai negara bisa bersatu dan berjuang lintas batas,” ujarnya.
Peluncuran dan diskusi ini menjadi ruang pertemuan antara akademisi dan gerakan petani untuk berbagi gagasan. Dengan hadirnya terjemahan bahasa Indonesia dan akses gratis, kegiatan ini diharapkan mampu memperluas jangkauan literasi agraria, khususnya bagi petani, masyarakat desa, pesisir, serta generasi muda.






