Teknologi: Membantu atau Membodohkan?
Sedangkan narasumber kedua, Nisa Ulfatonah, Founder Komunitas Mau Bener Bareng menekankan pembahasan dengan menyoroti pesan utama film. Ia menjelaskan bahwa tokoh utama film, seorang tentara bernama Joe Bauers, diceritakan memiliki IQ rata-rata. Namun, setelah ia dibekukan dan terbangun 500 tahun kemudian, Joe justru menjadi manusia paling cerdas di dunia karena masyarakat di masa depan telah mengalami kemerosotan intelektual.
“Seiring kemajuan teknologi, seharusnya manusia makin pintar. Tapi kenyataannya, orang-orang cerdas sibuk mengejar karier dan tidak berketurunan, sedangkan yang berpendidikan rendah justru memiliki banyak anak. Akibatnya, kualitas generasi menurun,” jelas Nisa.
Ia menambahkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat bantu manusia, bukan menggantikan proses berpikir. Namun kini, manusia justru makin bergantung pada aplikasi instan, termasuk AI seperti ChatGPT dan media sosial.
“Kita terlalu percaya pada influencer dibanding ahli. Informasi diserap tanpa verifikasi. Akibatnya, manusia kehilangan kemampuan analisis,” katanya.
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) juga menjadi sorotan. “Kita mudah ikut-ikutan tren tanpa berpikir panjang. Padahal, dalam Islam, manusia diminta untuk berpikir dan menimbang baik-buruk. Ketika akal tak lagi digunakan, maka hawa nafsu yang akan menguasai,” tegasnya.
Nisa mengungkap bahwa sistem kapitalisme modern telah menanamkan nilai materialisme dan hedonisme yang menyesatkan arah hidup manusia. “Kita diajarkan untuk mencari untung, bukan kebenaran. Semuanya harus cepat dan instan, termasuk dalam belajar,” urainya.
Kebodohan yang Menjadi Norma
Sedangkan Dessy, sebagai narasumber ketiga menyoroti aspek paling absurd dari film Idiocracy, seperti adegan masyarakat masa depan yang menyiram tanaman dengan minuman energi karena mengira cairan itu mengandung nutrisi.
“Adegan itu terlihat konyol, tapi sebenarnya menggambarkan realitas bahwa manusia bisa kehilangan logika ketika teknologi dan iklan mengambil alih akal sehat,” ujarnya.
Aktivis dari BMI Community Jakarta ini mencontohkan propaganda di Brazil yang mengklaim manusia tidak perlu air mineral, cukup minuman bersoda.
“Hasilnya, tingkat diabetes di sana melonjak. Mereka bahkan menyiram tanaman dengan soda dan heran kenapa tanamannya mati. Ini contoh nyata kebodohan yang diulang karena kepercayaan tanpa ilmu,” jelasnya.







