Pernyataan “telat mikir” bukan sekadar ucapan yang terlepas begitu saja, tetapi cerminan dari krisis kepemimpinan yang mengancam kualitas demokrasi lokal kita.
Sebagai warga negara yang peduli, kita harus terus menuntut pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga bijak dalam bertindak dan bertutur kata. Pemimpin yang melayani dengan hati dan pikiran terbuka, bukan dengan arogansi dan penghinaan.
Masyarakat tidak boleh dibiarkan terintimidasi oleh pemimpin yang tidak mampu menerima kritik. Demokrasi harus tetap hidup melalui suara-suara kritis yang membangun, bukan dibungkam oleh kekuasaan yang anti-kritik.
Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin yang bisa melihat kritik sebagai jalan untuk memperbaiki diri, bukan sebagai ancaman terhadap egonya.
(Red-JBL)






