Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan (BP2P) Jawa IV, Ditjen Perumahan Ali Murtado mengatakan desain renovasi rumah warga menjadi sarana hunian pariwisata (Sarhunta) dimodifikasi lebih modern, tetapi tidak meninggalkan kearifan lokal masyarakat Suku Tengger sebagai upaya menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menginap. “Sarana hunian pariwisata ini bisa menjadi alternatif penginapan bagi para wisatawan yang berkunjung di Bromo. Diharapkan dengan kondisi rumah penduduk yang ditingkatkan kualitasnya para wisatawan yang menginap bisa lebih nyaman,” kata Ali Murtado.

Salah satu penerima program Sarhunta di Desa Ngadisari Sudaryanto mengaku adanya program peningkatan kualitas rumah menjadi sarana hunian pariwisata dapat menambah penghasilan keluarga. Pemilik Homestay Darsana ini sehari-hari bekerja sebagai petani sayuran dengan penghasilan sebulan rata-rata hanya Rp2 juta.
“Untuk semalam kami tawarkan Rp200 – 250 ribu, bisa menjadi tambahan pemasukan keluarga. Tetapi kalau boleh berharap tolong kami diberi pelatihan bagaimana mengelola tamu, service homestay, dan sebagainya,” kata Sudaryanto.

(Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)






