“Ya kalau petani nya mau mungkin saja, tapi di lahan darat jangan di lahan sawah. Nanti kita kekurangan beras,” jelas Edi.
Bukan tanpa sebab, beliau menuturkan alasan dibalik penanaman tersebut bukan hanya asal memilih. Edi menjelaskan kelebihan komoditas jagung jauh lebih mudah untuk dilakukan produksi daripada tanaman lain.
“kalau jagung kan tidak memerlukan air yang terlalu banyak, tinggal tanam saja,” tutur beliau.
Selain mudah untuk dilakukan penanaman hingga perawatan jagung yang menyebabkan terpilihnya komoditas tersebut, Edi memaparkan lahan yang di garap untuk menjadi lahan jagung merupakan daerah yang sedang tidak di tanami oleh petani dengan komoditas padi.
“lahan yang sedang tidak digunakan untuk padi dimanfaatkan sebagai penanaman jagung,” jawab Kabid Tanaman Pangan Dinas pertanian Karawang kepada pihak media.
Selain itu juga, lahan-lahan yang berada di Tanjung Pakis mempunyai letak geografis yang sangat sulit untuk di jangkau dengan irigasi. Hal ini menyebabkan lahan yang semula memerlukan air untuk penanaman padi tidak dapat di jalankan, sehingga lahan tersebut pun dimanfaatkan untuk penanaman selain komoditas padi-padian. Terkait irigasi, Edi menegaskan Kementan hanya bisa menyalurkan pipa jenis tersier yang pada saat ini tidak bisa mencapai Tanjung Pakis.
“karena di Tanjung Pakis ini posisinya nanjak, jadi airnya tidak kuat mencapai,” tegas Kabid Tanaman Pangan Karawang.
Edi juga membeberkan demi terlaksana nya penanaman jagung tersebut, Dinas Pertanian Karawang memberikan beberapa bantuan seperti peralatan penanam benih untuk mempercepat proses produksi jagung.
“Untuk peralatan kita menyediakan penanam bibit, untuk bibit jagung,” tambah Edi kembali.
Tak ingin kalah, Kementan dalam kegiatan penanaman perdana juga memberikan beberapa bantuan. Bantuan tersebut seperti benih jagung, pupuk hayati cair, pupuk MPK non-subsidi, dan herbisida yang diberikan secara simbolis pada acara penanaman perdana dilaksanakan.






