Porosnusantara.co.id || Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait gempa menyebutkan terjadi peningkatan frekuensi secara global. Peningkatan frekuensi tersebut, tutur Dwikorita merupakan gempa-gempa dangkal yang mempunyai dampak lebih besar jika di bandingkan dengan gempa dalam. Tambah beliau, data yang menunjukan terjadi peningkatan gempa tersebut bersumber dari Advanced National Seismic System Composite Catalog.
“Kita lihat dari aspek tektonik data atau informasi ini bersumber pada Advanced National Seismic System Composite Catalog yang menunjukkan tren kenaikan kejadian gempa bumi secara rata-rata untuk tiap harinya, setiap harinya,” tutur Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Minggu (5/6/2022).
Dwikorita juga menyebutkan, peningkatan frekuensi global yang ada di Indonesia sendiri yang dilansir melalui data trend gempa tahun 2018 tidak menunjukan adanya penambahan atau peningkatan gempa.
“Tidak ada peningkatan, jumlahnya hanya 176, dan itu sudah mencatat rata-rata jumlah gempa setiap tahunnya saat itu adalah sekitar 5.000 hingga 6.000 per tahun kejadiannya sampai tahun 2016 itu 5.000 sampai 6.000,”
Tetapi pada tahun 2017 Dwikorita mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan dengan peralatan tetap menjadi 7.169.
“Bahkan, di 2018 melompat menjadi 11.920 kali. Dan saat ini mulai tahun 2020 itu baru terjadi penambahan peralatan, tapi 2019 itu belum ada penambahan peralatan trennya masih 11.000 lebih,” sebut Kepala BMKG.
Di tahun 2020 sendiri terjadi penurunan gempa yang relatif sedikit tetapi masih di atas lingkaran angka 6.000.
“Nah, nampaknya tahun 2020 sedikit menurun, namun tetap di atas angka 6.000, jadi tetap di atas rata-rata tahunan dengan magnitudo yang bervariasi, yang dirasakan sekitar 230 yang dirasakan. Jadi, kalau ribuan itu yang lain tidak dirasakan, namun yang dirasakan sekitar 230-an. Artinya, rata-rata setiap hari ada 1 gempa yang dirasakan,” tutup Dwikorita.






