Namun demikian diakui oleh Prof. Edi, bahwa produksi padi saat ini tidaklah mudah. Terlebih lagi, Indonesia dan juga Negara-negara di dunia masih menghadapi badai krisis pandemi yang berkepanjangan. Diperburuk lagi dengan perang negara antara Rusia dan Ukraina yang berdampak langsung pada kenaikan Harga-harga, terlepas itu semua, Indonesia boleh dikatakan sebuah negara agraris yang memiliki ketangguhan dalam menghadapi situasi global, inilah yang merupakan hasil konkrit dari strategi ketahanan pangan yang diterapkan Pemerintah
“Berkat kerjakeras dan ketangguhan seluruh komponen masyarakat maupun stakeholder dibidang pertanian, maka Indonesia memiliki kemampuan untuk melakukan terobosan untuk meningkatkan produksi padi dan jagung sehingga ketersediaanya selalu stabil, terutama disaat pandemi seperti saat ini, tentunya keberhasilan ini mesti ditingkatkan sehingga Indonesia dapat menjadi negara yang berdaulat atas produksi pangannya” ungkapnya
Di temui di tempat terpisah, hal senada juga di sampaikan Pengamat Pangan dari Universitas Brawijaya, Mangku Purnomo mengapresiasi keberhasilan Kementan dalam meningkatkan produktivitas padi dan jagung nasional, keberhasilan ini merupakan bukti bahwa Indonesia adalah negara pertanian yang sangat kuat dan bisa diperhitungkan di kancah internasional.
“Keberhasilan ini telah menunjukan kepada Negara-negara di dunia bahwa kita adalah bangsa pertanian terkuat yang memiliki potensi besar di sektor pertanian,” ucapnya kepada pers, Jumaat, 8/4/2022.
Capaian prestasi meningkatnya produktifitas di sector pertanian, tentunya di harapkan juga dapat mempengaruhi kehidupan petani sebagai subyek dalam lapangan pekerjaan di sector pertanian, terkait dengan keberhasilan tersebut, porosnusantara.co.id melakukan penelusuran pendapat ke kalangan petani, dan berhasil menemui seorang buruh tani, sebut saja Mimin (45 thn), kepada porosnusantara.co.id, ia mengatakan bahwa penghasilan yang didapatkannya selama ini tidaklah cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhannya sehari-hari. Apalagi ia tidak selalu bekerja sebagai buruh tani. Pekerjaan tersebut hanya dilakukannya apabila ada pemilik lahan yang memintanya, itu pun sehari bekerja hanya mendapatkan upah Rp70.000/hari.






