Bogor, Porosnusantara.co.id
Diperoleh informasi dari data badan pangan dunia FAOyang menyebut bahwa Indonesia pada tahun 2018 menduduki peringkat produktivitas kedua dari 9 negara negara FAO di Benua Asia yang menghasilkan produksi beras melimpah, adapun urutan tingkat produktivitas tertinggi adalah Vietnam 5,89 ton/hektar, diikuti pada peringkat dua oleh Indonesia 5,19 ton/hektar, ketiga Bangladesh 4,74 ton/hektar, lalu Philipina 3,97 ton/hektar, India 3,88 ton/hektar, Pakistan 3,84 ton/hektar, Myanmar 3,79 ton/hektar, Kamboja 3,57 ton/hektar dan Thailand 3.l,09 ton/hektar. Untuk tingkat Asia, posisi produktivitas Indonesia berada di peringkat kedua setelah Vietnam.
Informasi itupun mendapatkan tanggapan dari Prof Edi Santosa Ketua Bidang Kajian Kebijakan Pertanian Dewan Pimpinan Pusat Peragi ( Perhimpunan Agronomi Indonesia) Perhimpunan Agronomi Indonesia kepada awak media, ia mengatakan bahwa Selama Pemerintahan Jokowi Ma’ruf Amin ini, nampaknya upaya Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produktivitas padi dan jagung dengan kecenderungan hasil positif, Hasil positif tersebut nampak pada angka perhitungan BPS sejak tahun 2019, dimana saat itu padi produktivitasnya mencapai 5,11 ton/hektar dan meningkat 5,13 ton/hektar pada tahun 2020, kemudian meningkat lagi 5,22 ton/hektar pada tahun 2021, terciptanya situasi itu dapat disebabkan oleh beberapa factor, diantaranya adalah adanya langkah upaya peningkatan pengembangan kualitas benih, penyediaan pupuk dan penggunaan alat mesin pertanian jadi faktor utama meningkatnya produktivitas .
“Saya menilai tiga factor tersebut sangat mempengaruhi peningkatan produktifitas, dan inilah yang dapat disebut pertanian maju, mandiri dan modern dibawah Meteri SYL,” kata Prof Edi yang merupakan guru besar IPB, Jumat 8 April 2022 kemaren lusa.






