Sekarang jangan dipostingkan media harusnya memberikan daya literasi dan pemutus kata atau hal hal yang sebetulnya tak terjadi, dan tidak terburu buru merespon tentang apa yang terjadi di Afganistan.
“Jangan buru-buru menyikapi dengan kemenangan Taliban ini sebab disana juga masih terjadi konflik”, terang romo yang akrab dengan media ini. Sedangkan ketika bicara peran Indonesia tentu harus mendorong adanya pembangunan perdamaian tersebut. Sehingga Indonesia mampu memberi jalan tengah untuk perdamaian itu.
Mengenai adanya keraguan sebagian masyarakat tentang implementasi Pancasila sehingga masih terjadi perdebatan dengan perpindahan agama dan konflik-konflik tertentu, Benny melihat memang masih terjadi konflik-koflik dan prasangka-prasangka minor, namun jangan juga digeneralisasi, seolah-olah besar sekali, padahal kalau dilihat 80 persen masyarakat itu kan hidup rukun damai.
Misalnya ada sebuah Pesantren Walisomgo misalnya mengajarpun ada juga Romo para suster sebaliknya juga di seminari artinya tidak ada masalah. Di NTT Muhamadiyah dan Papua tidak ada masalah. Jangan juga konflik kecil itu dibesar-besarkan karena sebenarnya masih banyak yang hidup berdampingan.
Memang yang dibutuhkan sekarang konsolidasi demokrasi khususnya pasca kasus Ahok, namun setelah Ahok politik identitas tak begitu lagi. Tantangan nya sekarang bagaimana terus merawat keberagaman dan kemajemukan perlu bijak dalam media sosial, jangan isinya memprovokasi, sekarang harus mengisi media sosial sebagai alat atau sarana merajut keberagaman dan kesatuan bangsa bukan penghancuran persatuan bangsa.
Seperti Soekarno ikatan kita yang bhineka Tunggal Ika itu dna-nya. Makanya kasus-kasus SARA di Indonesia tidak begitu kuat, karena ada kekuatan kebersamaan di dalamnya dan ini yang harus di rawat dan dijaga terus menerus, tandasnya.






