RM Benny Susetyo Pr Menyikapi Kemenangan Taliban dengan Memperkuat Keragaman dan Kemajemukan

Karena menurutnya masalah Afganistan ini masalah kekuasaan bukan masalah agama, apalagi dengan sikap NU yang berkomunikasi kepada mereka dan NU sudah memiliki jaringan yang kuat dengan kelompok Taliban.

Memang perlu kehati-hatian dalam pengakuan Indonesia terhadap Taliban, karena masih ada reaksi penolakan yang kuat dari masing-masing kelompok di Taliban atau suku.

Jika masing-masing suku di Afganistan ini belum ada perdamian memang akan sangat sulit kalau Afganistan akan menjadi negara damai dan merdeka. Karena bicara Afganistan yang dikuasai Taliban, sesungguhnya kemenangan Taliban tersebut ada kekuatan besar dari Cina, Uni Soviet dan Amerika. Kenapa akhirnya Afganistan mudah dikuasai Taliban, karena memang Amerika tidak punya kepentingan makanya ditinggalkan negara tersebut.

Justru Cina yang saat ini berkepentingan dengan jalinan perdagangan dan investasi. “Kita mengenal karakter Cina dengan ekonomi menjadi kekuatan mereka”, terang Benny yang juga mengajak masyarakat melihat kepentingan-kepentingan global dan tidak melihat secara sempit.

“Jangan melihat kasus Afganistan ini dalam kesempitan lalu reaktif, tetapi juga melihat bahwa ada kepentingan-kepentingan negara super power dalam kepentingan Afganistan”, terangnya.

Dikaitkan dengan kepentingan atau sikap Indonesia ya harus kembali kepada politik bebas aktif toleran keberagaman dan kemajemukan, selain itu Indonesia harus mampu mengisi ruang-ruang publik itu dengan issue-issue keragaman kemajemukan dan pemantapan ideology bangsa, sehingga kita melihat 76 tahun tetap kokoh.

Terakhir peranan besar nantinya bahwa dekaradikalisasi itu menjadi penting, sehingga paham-paham itu tidak masuk di generasi baru ini. Tak kalah penting peranan di komunitas media meluruskan hal-hal sebenarnya tidak terjadi, sehingga peristiwa-peristiwa dahulu jangan di ulang seperti pembunuhan misionaris dan sebagainya.
Media berfungsi mengcounter ini penting untuk media ke depan, sehingga gambaran di Afganistan itu seolah-olah ada konflik mengenai agama, yang sifatnya mengekploitasi tentang berita-bertita pembunuhan komunitas misionaris, komunitas Budha padahal itu berita-berita yang dulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *