Glenn menjelaskan, Teknik TSS ini mampu menciptakan pertanian yang efektif bagi petani sehingga bisa menghemat biaya produksi dan peningkatan produktivitas.
Dia memaparkan, perbedaan budidaya menggunakan TSS dan konvensiona| adalah jika menggunakan sistem konvensional, kebutuhan bibit mencapai 1,5 ton per ha senilai Rp 45 juta.
“Sedangkan jika menggunakan TSS hanya memerlukan 5 kg benih dengan biaya sekitar Rp 10 juta per hektare,” ungkap dia.
Glenn memaparkan bahwa selain menekan biaya produksi, jika petani dapat menerapkan teknik budidaya bawang merah dari biji maka akan mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian umbi bibit.
“Selama ini ketergantungan petani terhadap umbi bibit saja membuat Pemerintah terpaksa harus mengimpor bibit bawang sedikitnya 1.500 ton pada tahun 2016,” tambah Glenn Pardede.
Selain itu, dengan menanam bawang merah dari biji petani akan mendapatkan tiga keuntungan.
Pertama, kata Glenn, biaya transportasi lebih murah karena berbentuk biji. Kedua, benih bisa lebih lama disimpan dalam storage (maksimal 2 tahun) selama tidak terkena sinar matahari. Sementara, dengan sistem konvensional, umbi hanya bisa disimpan antara 2-4 bulan.
Ketiga, lebih sedikit terserang penyakit karena benih tidak membawa bulb borne disease seperti virus dan jamur. Selain itu, pemakaian pupuk pun menjadi lebih efisien.
Adapun EWINDO telah memperkenalkan TSS sejak tahun 2007 dan telah memiliki varietas-varietas benih bawang merah seperti LOKANANTA dan SANREN F1.
“Pengenalan cara baru budidaya bawang merah Ini merupakan sumbangsih kami dalam memacu pertumbuhan dan kemajuan bidang Agro lndustrl khususnya budidaya hortikultura di indonesia. Kami berharap dengan budidaya ini akan mampu mendorong peningkatan kesejahteraan petanl bawang merah di lndonesia,” tutup Glenn.






