Kementan siap masifkan program ‘Early Warning System’

 
 

“Jadi sudah terdata. Dianalisis potensi harganya. Hasilnya kemudian kami berikan kepada daerah untuk menjadi bahan di lapangan,” beber Anton.

Dalam kesempatan itu, Anton juga mengunjungi sejumlah lokasi produksi benih PT EWINDO. Mulai dari tempat penyemaian benih, lokasi tanam, hingga pengemasan benih.

 

“Peran swasta seperti PT EWINDO amat penting ya. Misalnya mengkampanyekan teknik menanam TSS. Ini sejalan dengan apa yang kami sedang kampanyekan,” ungkapnya.

Sejalan dengan Visi Konstratan

Program EWS yang tengah dirintis Ditjen Hortikultura sejatinya turunan dari visi yang digagas Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo. Yakni terkait pembentukan Pusat Komando Strategis Pertanian (Konstran).

Salah satu agenda besarnya adalah bagaimana negara memiliki basis data pangan yang terintegrasi. Tidak tumpang tindih satu sama lain.

“Single data. Maka dari itu Pak Menteri (Pertanian) menginstruksikan sinkronisasi data dengan sejumlah Kementerian/Lembaga terkait,” kata Anton.

“Termasuk hortikultura. Punya single data. Mulai dari pusat sampai ke daerah. Karena kebijakan tanpa data akurat, kebijakannya tidak akurat,” lanjutnya.

Selain single data, salah satu wujud dari konstran adalah agriculture war room. Pusat kontrol untuk memantau dan mengkoordinasikan segala aktivitas pertanian. Mulai dari pusat hingga daerah.

“Targetnya dalam 100 hari pertama ini terbentuk 500 Konstratan, dan dalam lima tahun ditargetkan menjadi 5.000 Konstratan se-Indonesia,” jelas Anton.

TSS Untungkan Petani

Managing Director EWINDO, Glenn Pardede mengatakan, pihaknya terus mendorong teknik budidaya bawang merah TSS menggunakan benih atau biji.

“Bukan bibit/umbi yang selama ini selalu mereka gunakan,” ujar dia kepada awak media.

 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *