Kementan Dorong Pengembangan Manggis untuk Konservasi dan Mengurangi Emisi Karbon

Dalam konteks jasa, lanjut Liferdi, lingkungan tanaman manggis yang telah menghasilkan buah, mampu memberikan manfaat ekonomi lingkungan kepada masyarakat sebesar US$1,49 juta atau Rp 20,8 miliar.

“Nilai tersebut baru dari aspek pengurangan emisi, belum nilai ekonomi langsung dari hasil buah dan bagian tanaman manggis lainnya. Terlebih lagi kalau dihitung jasa lingkungannya terhadap pengendalian banjir, erosi dan konservasi air tanah. Luar biasa besar manfaatnya,” terang Liferdi yang juga dikenal sebagai pakar manggis tersebut.

Menurut Liferdi, saat ini Ditjen Hortikultura terus menggodog dan menyempurnakan   Grand Design  pengembangan Hortikultura 2020-2024, yang mensinergikan berbagai aspek terkait dari hulu hingga hilir. Khusus manggis, pihaknya mendorong pengembangan kawasan manggis yang berorientasi pasar modern dan ekspor namun tetap berwawasan lingkungan.

“Tanaman manggis dikenal sebagai tanaman yang berumur panjang bahkan bisa mencapai ratusan tahun. Tidak serta merta misalnya ditanam sekarang lalu bisa dipetik buahnya 2-3 tahun lagi. Untuk belajar berbuah saja paling tidak butuh 8 tahun. Jadi perlu manajemen pengelolaan kebun dan visi jangka panjang yang kuat terkait kelestarian lingkungan,” katanya.

Dirinya menjelaskan, selama fase pertumbuhan awal, tanaman manggis butuh tanaman peneduh terutama pada periode kritis 0 – 3 tahun sejak tanam. Dalam periode tersebut bisa saja dimanfaatkan untuk menanam tanaman sela seperti albasia, pisang atau pepaya agar dalam jangka menengah petani bisa mendapatkan penghasilan lain.

“Selain manfaat ekonomi langsung, harus diingat bahwa pengembangan kawasan manggis juga memberikan manfaat terhadap lingkungan. Nah, kalau sudah bicara kepentingan jasa lingkungan, semua pihak atau stakeholders terkait musti terlibat,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *