Menurutnya, kendati sempat muncul nama Iwan Fals yang popular di masyarakat, namun ia menilai tidak jaminan dalam keterpilihan. Jadi dengan kata lain, popularitas tinggi berbeda dengan elektabilitas.
“Artinya, dengan program yang dijalankan selama ini juga cukup bagus dan berjalan. Apalagi, dalam survey itu 40 persen masyatakat berharap agar program saja yang berjalan dan tidak melihat sosok,” tutur Devie.
Devie menambahkan, bahwa untuk menjadi seorang pemimpin adalah membangun sebuah monumen yang bisa dilihat dan dirasakan saat tidak menjabat. Pasalnya, langkah tersebut merupakan pola yang dijalankan Negara maju atau di Barat.
“Artinya, untuk nenjadi Walikota atau Wakil Walikota itu bukan saja penyambung partai saja. Namun, bagaimana bekerja dengan sebaik-baiknya dan otomatis partai akan dikenal dengan sendirinya. Sebab, yang dilakukan sekarang adalah membranding secara berkesinambungan dan membuat monumen peninggalan, bukan malah meruntuhkannya,” imbuhnya.
Ditempat yang sama, Pengamat Kebijakan Publik dari UI Lisman Manurung menambahkan, bahwa untuk menjadi pemimpin haruslah berkolaborasi. Sebab, permasalahannya Kota yang dihadapi ini adalah sama seperti moda angkutan transportasi massal. Bahkan juga masalah SDM yang masih kurang.
“Artinya, siapapun yang menjadi Walikota Depok tentunya akan menghadapi masalah dan tugas yang berat. Banyangkan saja, untuk ASN saja hanya kurang lebih 8 ribu orang berbeda dengan DKI yang mencapai 80 ribu ASN. Belum lagi, APBD Kota Depok yang minim jika dibandingkan dengan Kota penyangga DKI Jakarta,” Imbuh nya . ( Boy / Wahyu gondrong )






