Dalam jangka waktu 1-2 bulan, kata Liferdi, tiap RTMP diharapkan bisa panen sayuran daun seperti kangkung, bayam, sawi, kacang panjang, paria atau jagung manis. Jangka menengah mereka bisa mendapat penghasilan dari telor ayam. Jangka panjang, berkembang klaster durian yang hasilnya bisa dinikmati RTMP.
“Tentu yang lebih penting lagi, kita berharap ada perubahan mindset positif dan tumbuh mental bangkit keluar dari kemiskinan. Bimbingan teknis yang kami berikan selain memberi bekal teknis budidaya sayur dan buah yang baik, juga memberikan motivasi positif kepada RTMP,” tambahnya.
Menurut Liferdi, khusus Program Bekerja Hortikultura tahun ini dialokasikan di 11 provinsi dan 14 kabupaten termasuk Lombok Barat. Sasaran penerima manfaat program tersebut mencapai 54.373 RTMP dan 55 kelompok KRPL dengan total anggaran Rp. 16,86 miliar.
“Dalam satu desa atau kecamatan dikembangkan satu varietas durian. Istilahnya _One Village One Variety_. Meskipun lahan yang dimiliki RTMP relatif sempit, kalau ditanami secara serentak dan dikelola secara terpadu akan membentuk satu kawasan sayuran atau kawasan durian yang luas. Ini yang kami sebut filosofi sapu lidi,” imbuh Liferdi.
Kepala Dinas Pertanian Lombok Barat, Muhur Zokhri, menyambut baik program Bekerja di daerahnya. Menurut Zokhri, Lombok Barat sangat potensial untuk dikembangkan aneka komoditas hortikultura.
“Andalan hortikultura kami adalah _Kang Madura_, singkatan dari kangkung, manggis, durian dan rambutan. Untuk manggis, kami sudah ekspor dari Narmada. Rencana akan ada investor yang mengembangkan 5.000 hektare di Lombok Barat untuk diekspor ke China melalui pelabuhan Lembar Lombok,” ungkap Zokhri.
Selain manggis, lanjut Zokhri, potensi sayuran Lombok Barat juga sudah mencapai manca negara. Kangkung khas Lombok sudah diekspor ke Singapura dan Arab Saudi. “Kalau durian, kami punya puluhan jenis durian lokal. Salah satunya jenis _blueband_ yang pernah menjuarai kontes nasional durian,” tambah Zokhri antusias.







Program bagus.. semoga Lombok semkain maju