“Untuk meningkatkan volume ekspor talas, mereka menambah luasan tanam talas di 10 Kabupaten, yakni Gowa, Sopeng, Maros, Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Bone, Janeponto, Takalar dan Wajo dengan total luasan 178 hektar,” sebutnya.
*Konsep Ekspor*
Suwandi menilai konsep perdagangan ekspor talas dari Sulsel ke Jepang ini sudah sangat terintegrasi. Semua pihak turut mengambil peran masing-masing dan saling bekerjasama, baik itu instansi pemerintah, petani, maupun importir dan eksportirnya.
“Saya kira ini bisa menjadi contoh inspirasi bagi yang ingin mengembangkan komoditasnya sebagai produk ekspor,” bebernya.
Di tempat terpisah, senada dengan Suwandi, perwakilan importir Jepang yang berkantor di Indonesia, Affandi mengatakan talas yang akan dieskpor ke Jepang harus memenuhi persyaratan batas maksimum residu pestisida, bebas dari kontaminasi bakteri, memiliki tekstur, rasa, penampilan, warna dan ukuran sesuai permintaan buyer. Pasalnya, Jepang merupakan negara tujuan ekspor yang sangat memperhatikan food safety (keamanan pangan) disamping food quality (mutu pangan) sehingga traceability (ketertelusuran) untuk setiap pangan yang diedarkan menjadi sebuah persyaratan yang harus dipenuhi.
“Untuk memastikan penerapan SOP ditingkat petani talas, Pemerintah Provinsi Sulsel pun membentuk Tim Pendamping. Tim ini terdiri atas unsur Dinas Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan, importir (Jepang, red) di Indonesia, Unit Pengolahan Tepung Talas di Makasar dan Perguruan Tinggi,” cetus dia.
Untuk memastikan pasar, Affandi menyebutkan Pemerintah Provinsi Sulsel menggandeng PT. Tridanawa Perkasa Indonesia, yakni eksportir Talas Beku dari Makasar sebagai off taker. Terkait budidaya talas, tanaman ini akan tumbuh bagus pada tanah yang cukup gembur.






