“Kalau gas akan habis, minyak akan habis, semua sumber daya alam akan habis, tetapi dengan peningkatan SDM itu justru akan terus bertambah dan nggak akan habis,” ujar dia.
Sementara itu, Silvi Widiati seorang perajin batik tangan asal Samarinda mengaku bersyukur lantaran menjadi salah satu peserta pelatihan. Banyak manfaat yang dia rasakan melalui pelatihan tersebut seperti bagaimana memasarkan produknya melalui jejaring media sosial dan juga internet. Dia berharap kedepannya ada kesempatan baginya bersama Ikatan Komunitas Batik Samarinda (IKBS) untuk melakukan studi banding di daerah lainnya agar dapat menjadi sumber referensi pengembangan produk batiknya.
“Harapannya saya ingin sama temen – temen yang kebetulan anggota komunitas untuk studi banding biar ada bayangan kami. Selama ini kalau di sini untuk membandingkannya agak susah harus membandingkannya dengan siapa,” jelas Silvi.
Hal yang sama juga disampaikan peserta pelatihan lainnya, Masitah seorang perajin Rajut dan kerajinan dari sampah daur ulang asal Tenggarong, Kaltim. Menurutnya, paska mengikuti pelatihan dia memiliki gambaran yang baru untuk mengembangkan usahanya. Teknik baru pemasaran yang efektif baik secara online atau offline diakuinya akan dipraktikkan setelah mengikuti pelatihan tersebut.
“Kita udah terbayang bagaimana kita akan pasarkan produk kita kedepannya, ternyata seperti itu langkahnya. Kan kalau selama ini kita masih amburadul kurang tertata,” pungkas Masitah. (Red)







Mantap tampilan porosnusatara