Di dalam negeri permintaan akan biji kakao sebenarnya juga meningkat. Atase Pertanian KBRI Brussel, Wahida menyebutkan, selain mengekspor biji kakao, saat ini industri pengolahan biji kakao untuk re-ekspor juga sedang berkembang di dalam negeri. Sebagai catatan di tahun 2018 Indonesia mengimpor biji kakao sebanyak 240 ribu ton dengan nilai impor mencapai 528 juta USD. Supply biji kakao nasional yang tersedia masih belum mampu mencukupi kapasitas terpasang industri olahan kakao.
“Pabrik-pabrik pengolahan kakao mengolah biji kakao menjadi _intermediate goods_ untuk selanjutnya diekspor ke negara-negara konsumen utama seperti Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang,” jelas Wahida.
Menurut catatan Astrid, hingga saat ini _cacao butter_ masih menjadi produk unggulan ekspor Indonesia dengan volume ekspor mencapai 24.6 ribu ton di tahun 2018.
*Upaya Kembalikan Kejayaan Kakao Indonesia*
“Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai macam upaya untuk mengangkat kejayaan kakao nasional,” tegas Wahida.
Salah satunya dengan transfer teknologi untuk pengendalian pengakit vaskular – streak dieback (VSD) dan Phytopthora Pod Rot Disesase pada tanaman coklat.
Selain dana pemerintah, industri kakao terkemuka di Eropa, Mondelez menyatakan ketertarikannya untuk mendanai proyek ini. Proyek ini akan melibatkan para peneliti dari Pusat Penelitian Tanaman Kakao dan Kopi (Puslitkoka) di Jember dan diharapkan akan dapat dilaksanakan dalam 1-2 tahun mendatang.
Peluang ini muncul setelah pemerintah berhasil menegosiasi pada pertemuan International Cacao Council ke-99 di Abudjan, Pantai Gading pada tanggal 8-13 April 2019.
Upaya menghadirkan produk kakao yang berkualitas dan berkelanjutan menjadi tanggung jawab bersama pemangku kepentingan di sepanjang rantai _supply chain_ dari komoditas kakao di tanah air.






