Hal ini, tambahnya, dapat dilihat dari angka BPS yang menunjukkan tren peningkatan. Pada 2012 produksi jeruk keprok/siem tercatat 1,6 juta ton dan mengalami peningkatan sebesar 31.25 persen menjadi 2,1 juta ton pada 2018.
“Kementan mengarahkan agar pengembangan kawasan jeruk dipilih varietas jeruk yang berwarna kuning/oranye sebagai kompetitor jeruk impor,” jelas Yanti.
Yanti menambahkan, varietas jeruk warna oranye lokal antara lain jeruk rimau gerga lebong, keprok gayo, siem gunung omeh, keprok batu 55, keprok siompu, keprok soe, jeruk orange parahyangan (JOP/Fremont), siem madu jaro, keprok borneo prima dan lain – lain.
Keprok Gayo merupakan salah satu jenis jeruk yang memiliki keunggulan kulitnya berwarna kuning/orange. Sejak 2012 hingga saat ini, Kementan telah mengalokasikan APBN untuk pengembangan jeruk ini seluas 726 hektare yang tersebar di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Aceh Jaya.
“Saya berharap jeruk keprok gayo semakin berkembang di Provinsi Aceh karena memang memiliki potensi luar biasa. Ke depan, pengembangan kawasan jeruk dapat diarahkan di kebun-kebun monokultur sehingga akan dapat mempermudah pemeliharaan serta penerapan teknologi budidaya dapat diterapkan oleh petani,” jelas Yanti mengakhiri pembicaraan. (Red)






