Strategi lain yang dilakukan Kemendag yaitu memfokuskan kembali pada produk industri olahan yang bernilai tambah tinggidan diversifikasi produk ekspor, membuka pasar baru, mengelola tata niaga impor dengan lebih baik, meninjau perjanjian perdagangan yang ada, menjalin perdagangan dengan mitra-mitra dagang yang baru, menyelenggarakan forum bisnis dan penjajakan bisnis di negara mitra, mengembangkan ekspor jasadan ekonomi kreatif, serta meminimalkan tindakan trade measureterhadap Indonesia.
Dalam hal perjanjian perdagangan, Kemendag terus mempererat kerja sama dengan mitra-mitra dagang utama. Misalnya, dengan Korea, Indonesia telah mengaktivasi kembali Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement(IK-CEPA). Indonesia juga telah menandatangani Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).Menurut Mendag, Indonesia menargetkanperdagangan bilateral dengan Korea meningkat menjadi sebesar USD 30 miliar pada 2022 dan dengan India menjadi sebesar USD 50 miliar pada 2025. Selain itu, dengan AS sebesar USD 50 miliar.
Mendag menegaskan, upaya peningkatan ekspor ini bukan semata-mata untuk industri besar saja, tetapi juga dengan mendorong dan mengembangkan sektor usaha kecil dan menengah (UKM) yang berorientasi ekspor.Mendag menambahkan, Indonesia kini sedang mengukir reputasi sebagai sebuah ekonomi yang layak diperhitungkan dalam kancah ekonomi global. Perekonomian Indonesia tumbuh rata-rata 5,2persen dan kini menempati peringkat ke-16 sebagai ekonomi terbesar di dunia, dan peringkatke-4 sebagai tempat tujuan investasi terfavorit di dunia. “Pada tahun 2050, Indonesia diprediksi akan menjadi ekonomi terbesar ke-3 di Asia dan ke-4 di dunia,”pungkas Mendag dengan optimis. (Red)






