Panen Perdana Padi Udang Windu (PANDU) Di Lahan Tidur

“Budidaya Pandu ini dilaksanakan dalam kondisi off session, yaitu saat memasuki musim kemarau pada bulang Agustus 2018. Sumber air irigasi dan sumber air payau merupakan sumber utama dalam mengairi lahan PANDU ini selama 75 hari. Metode tapin atau tanah pindah di lahan penyemaian merupakan upaya mengkondisikan sistem perakaran padi mampu menyimpan cadangan makanan yang cukup untuk dipindahkan ke lahan sawah dalam kondisi payau. Sedangkan udang windu (Spesific Pathogen Free) dihasilkan dari metode tokolan dengan membesarkannya di kolam pendederan yang bertujuan memberikan kecukupan pertumbuhan melalui pemberian probiotik dan alga,” tuturnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini, perwakilan Kepala Dinas Kabupaten Barru, Perum Perikanan Indonesia (Perindo) Farida, PT Bakrie Mina Bahari Andri Kabul,  Plt. Kepala Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Maros, dan Kepala BB Padi Sukamandi.

Panen parsial ini merupakan upaya memanen salah satu dari komoditas udang windu yang disesuaikan untuk kebutuhan tertentu. Pada panen ini umur udang sudah memasuki 45 hari dengan ukuran panjang tubuh 12-13 cm dan berat rata-rata 10 gram. Sedangkan umur padi salin belum memasuki umur panen karena proses tumbuh bulir padi belum serempak dan akan memasuki umur panen pada 110 hari. Pelaksanaan panen padi diestimasikan pada bulan Januari 2019.

Laporan : Windarto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *