Panen Perdana Padi Udang Windu (PANDU) Di Lahan Tidur

Barru, Poros Nusantara  – Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) terus berupaya meningkat kesejateraan rakyat. Salah satu cara yang ditempuh melalui program minapadi yang mengintegrasikan integrasi dua teknologi menjadi suatu inovasi teknologi.

“Dengan metode ini, diharapkan alih fungsi lahan dapat berkurang dan dapat meningkatkan produktivitas pembudidaya dan meningkatkan ketahanan pangan nasional,” tutur Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja,  di Desa Lawalu, Kecamatan Sopengriaja, Kab. Barru, Sulawesi Selatan, pada acara panen parsial udang windu dan serah terima bantuan di Instalasi pembenihan Udang Windu (IPUW) BRPBAPPP di Desa Lawalu, Kecamatan Sopengriaja, Kab. Barru, Sulawesi Selatan. (18/12).

BACA JUGA  Kanit Binmas Polsek Cengkareng Iptu Wiyanto Dampingi Simulasi Pemadaman Kebakaran karyawan dan security mall Taman Palem Cengkareng

Minapadi Air Payau Padi Udang Windu (PANDU) berada di lahan seluas kurang lebih 1 ha, yang terdiri dari 0,92 ha untuk kegiatan budidaya padi dan udang windu dan sisanya sekitar 0,08 ha untuk tandon (penampungan air payau). Dari panen parsial di Minapadi PANDU, diketahui bahwa selama 47 hari ukuran panjang maksimal udang hasil tokolan sudah mencapai 13 cm dengan berat 10 gram.

BACA JUGA  Peletakan Batu Pertama Pembangunan Masjid Al-Salmah Umar As'adiyah, Bupati Wajo Urai Perkembangan Pondok Tahfidz

Kepala Pusat Riset Perikanan (Kapusriskan) Toni Ruchimat mengatakan bahwa Minapadi Air Payau PANDU pada awalnya merupakan lahan tidur (menganggur) yang terjadi akibat intrusi air laut. Untuk memanfaatkan potensi lahan tersebut diperlukan teknologi dan komoditas ikan dan komoditas padi yang toleran dan adaptif.  Sementara itu, perakitan udang windu unggul lahir melalui seleksi individu pada karakter pertumbuhan udang windu yang dilakukan di BRPBAP3-Maros. Selain faktor pertumbuhan, udang windu unggul ini juga dapat diadaptasikan pada air payau dengan salinitas rendah hingga kisaran 3-7 ppt. Sementara pemuliaan padi payau hasil rekayasa dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi yang mampu mengadaptasikan padi pada salinitas 5-7 ppt.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *