Syarief menambahkan, data dari Badan Pusat Statistik Tahun 2008, nilai kumulatif ekspor tanaman air pada tahun 2002 hingga 2004 saja mencapai angka US$ 1.054.229 dan pada Tahun 2006 berada di angka US$ angka 676.404.
Selain itu, kata Syarief, BRSDM menggandeng kerjasama dengan BRSBIH (Balai Riset Budidaya Ikan Hias) guna melakukan inovasi-inovasi riset dalam rangka menunjang kehidupan perekonomian petani dan pembudidaya tanaman air, pertama yaitu “Inovasi In-Vitro Tanaman Hias Air sebagai Estetika (aquascape) dan obat herbal alami baru untuk penyakit ikan.
“Semenjak tahun 2016 hingga sekarang, BRBIH bekerjasama dengan Balai Besar Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian (BB Biogen Kementan) dalam memperbanyak ex situ tanaman air dengan memanfaatkan sifat totipotensi sel dan Bioteknologi untuk menciptakan inovasi In-Vitro Tanaman Hias Air sebagai Estetika,” katanya.
Syarief menegaskan dengan memanfaatkan sifat totipotensi sel, tanaman air dapat hidup diluar habitatnya dan dapat dipanen sebanyak yang diinginkan. Tanaman air juga tumbuh secara seragam dan bebas patogen sehingga baik untuk ikan.
Menurutnya, Budidaya In-Vitro merupakan suatu metode baru untuk mengisolasi bagian dari tanaman yang steril ditumbuhkan pada media buatan yang steril, dalam botol kultur yang steril dan dalam kondisi yang aseptic sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregerasi menjadi tanaman yang lengkap.
Dalam kesempatan itu, Sjarief Widjaja juga mengajak para peneliti kelautan dan perikanan untuk terus membantu nelayan serta stakeholder Kelautan dan Perikanan meningkatkan taraf hidup, melalui inovasi yang memberi solusi-solusi terbaik dalam bidang budidaya, inovasi yang mampu menjaga keanekaragaman hayati kelautan perikanan, dan inovasi yang mendorong dan mendukung kemandirian dan kedaulatan negara.






