Edi mengaku sambutan ini tadinya akan disampaikan oleh salah satu pejabat di Jawa Timur. Namun, karena berbagai pertimbangan, akhirnya dirinya minta kepada pengelola pagelaran penganugerahan ini yaitu Anugerah Prestasi Indonesia (API) untuk membatalkannya. Pasalnya, “saat ini adalah tahun politik. Pada tahun politik kita susah membedakan mana kawan dan lawan. Nanti, kalau kita undang pejabat A, pejabat B-nya curiga. Maka dari itu, guna menetralkan acara ini dan anugerah ini benar-benar dari hasil riset independen, kita ambil keputusan sampai tahun 2019 tidak mengundang pejabat,” kata Edi.
YBIDC hampir setiap hari melayangkan surat riset kepada pribadi-pribadi atau lembaga yang tersebar di seluruh Indonesia. Kemudian hasil riset yang tadinya skala daerah dikembangkan menjadi nasional. “Dengan seleksi yang ketat, akhirnya bisa menghadirkan oramg-orang yang spektakuler dalam ruangan ini,” ujarnya.
Edi menegaskan pihak yayasan menilai prestasi itu tidak hanya sekedar untuk dirinya atau pun keluarganya, tapi bisa memberikan manfaat bagi orang lain, masyarakat di sekitarnya dan manusia pada umumnya. “Nah, sehingga yang hadir pada malam hari ini dan yang akan menerima penghargaan, baik para pribadi, usahawan, leadership, para pendidik, maupun para professional yang handal adalah betul-betul pantas mendapatkan penghargaan,” tegas Edi.
Pihak Yayasan Bangun Indonesia Dengan Cinta terus berupaya mengirim surat guna melakukan penelitian, penelaahan, dan analisa serta mengundang lembaga atau perorangan.
Menurut Edi, dirinya pernah ditanya oleh salah satu konstituen, kenapa acara penganugerahan harus digabung dengan yang lain? “Jawab Edi, oh..no problem, kalau dipisah, Kami siap memberikan penghargaan. Kalau bapak bisa menyelenggarakan sendiri, saya sangat senang. Dengan catatan, tentukan hotelnya, berapa undangannya, nanti kita akan hadir sebagai lembaga yang akan menyerahkan penghargaan” ujarnya.






