BRSDM KKP Dorong Hasil Hilirisasi Hasil Riset dan Inovasi

Jakarta, Poros Nusantara – Dalam rangka mempercepat proses hilirisasi hasil inovasi dan riset BRSDM (Badan Riset dan Sumber Daya Manusia)  Kementerian Kelautan dan Perikanan, menggelar pertemuan Science and Inovation Business Matching (SIBM), pada selasa, 9 Oktober 2018 di Jakarta.  Menurut Kepala BRSM, Syarief Widjaya  hasil inovasi dan riset BRSDM akan dipersembahkan untuk bangsa sebagai salah satu perwujudan misi kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat yang bergerak di bidang kelautan dan perikanan.

“Melalui percepatan proses hilirisasi hasil inovasi dan riset kelautan dan perikanan, diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional yang bersumber dari riset dan inovasi kelautan dan perikanan, peningkatan reputasi dan pengembangan lembaga sekaligus berkontribusi  terhadap kepentingan finansial,” papar Sjarief. sjarief Membuka Acara_02

Lebih lnjut, Sjarief menjelaskan SIBM akan menjadi agenda bulanan guna memaparkan hasil-hasil riset dan inovasi yang dihasikan BRSDM kepada mitra atau calon investor dalam pengembangan inovasi tersebut.

“SIBM merupakan wadah untuk mempertemukan calon mitra dunia usaha atau dunia industri (DU/DI) dengan riset dan inovasi kelautan dan perikanan yang telah dihasilkan, memperkuat jejaring kerja sama dengan dunia industri yang berdampak pada pemanfaatan hasil inovasi tepat sasaran kepada masyarakat serta pertemuan ekonomi nasional yang bersumber dari riset dan inovasi kelautan dan perikanan, serta meningkatan kapasitas SDM, khususnya peneliti dalam menghasilkan riset dan inovasi kelautan dan perikanan yang sesuai kebutuhan pasar dan masyarakat,” tutur Sjarief.

BACA JUGA  Potret 2 Tahun Kepemimpinan Yusuf Lubis – Atos Pratama Oleh Ekie Noprismond,.SY,SH.

Ia berharap melalui SIBM dapat meningkatkan keaktifan dan peran penelitian kelautan dan perikanan di Indonesia. “Kepada para peneliti saya berharap dapat terus menerus berperan meningkatkan riset dan inovasi yang dibutuhkan DU atau DI dan masyarakat sehingga mendukung percepatan hilirisasi di Indonesia.sjarief saat mengunjungi pameran_02 Kerja sama dengan mitra industri merupakan salah satu cara sinergi pemerintah dan akademisi untuk menghasilkan inovasi kelautan dan perikanan yang akan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim,” harap Sjarief.

BACA JUGA  Polisi Bekuk Tersangka Penganiaya Anak Dibawah Umur Di Kupang

Pada pagelaran kali ini, juga diluncurkan produk  inovasi berupa Mini AIS (Automatic Identification System), yakni transponder AIS berukuran kecil untuk meningkatkan keselamatan nelayan khususnya nelayan kecil (<3 G). Selain itu, juga diluncurkan bibit Patin Perkasa yang disingkat Patin Super Karya Anak Bangsa).

Tidak hanya itu, acara ini dilaksanakan penandatangan kerja sama antara unit teknis riset dengan mitra DU atau DI dalam pengembangan inovasi riset yang dihasilkan, diantara Penandatangan antara KKP dengan PT. Martha Tilaar, terkait dengan pengembangan riset dan peningkatan kesejahteraan kelautan dan perinanan dan Penandatangan Kerjasama antara BRSDM dengan Pemkap Majene dan Pemkab Wakatobi soal pengembangan riset dan SDM kelautan Perikanan. Kerja sama_08

Kemudian kerja sama antara Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan dengan Direktur PT. Sanbe Farma atau PT. Caprifarmindo perihal vaksin Hydrogalaksi.  Kerja sama lain yaitu Kepala Riset Budidaya Ikan Hias dengan Direktur PT. Biocon Natural Indonesia mengenail pengembangan magot dan kerja sama Kepala Balai Riset Pemuliaan Ikan dengan Kepala Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Wilayah Utara, Jawa Barat, calon induk Patin Perkasa.

BACA JUGA  PLTA Poso Peaker 515 MW Siap Beroperasi Dukung Jaringan Transmisi Trans-Sulawesi

Sementara itu, menurut data Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tingkat pencapaian hilirisasi riset inovasi di Indonesia masih rendah, sekitar 3 hingga 5 persen, terpaut jauh dengan tingkat keberhasilan China, 25 Persen. Sedangkan Amerika dan Eropa mencapai 10 sampai 15 persen. Rendahnya kesuksesan ini, disebabkan minimnya kerja sama Lembaga peneliti dengan industry.

Laporan : Windarto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *