Pemuda Masa Kini Mengais Rejeki di Sektor Tani

Sementara itu, M. Maulana, Founder co-working space untuk pertanian,  menegaskan orang-orang muda memiliki potensi memperbaiki system pangan yang labih efektif dengan cara inovatif. Inisiatif usaha berbasis teknologi seperti Apps dengan berbagai model bisnis telah mendisrupsi praktik perdagangan pangan maupun relasi antar pelaku.

“Selain mendorong produksi pangan secara lokal, berbagai Apps yang ada saat ini, dapat menjadi alat untuk menghubungkan produsen pangan dan konsumen di lokasi yang berjauhan sehingga keterhubungan kota dan desa dapat terjadi. Inovasi ini ujung tombaknya adalah orang muda,” tegas Maulana.

Sementara itu, Said Abdullah, Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, mengungkapkan hasil penelitian pertanian di Kota Bogor bahwa sebagian besar orang muda menganggap pertanian adalah sektor penting. “Tidak hanya untuk menyelesaikan persoalan kelaparan, namun juga memperbaiki kehidupan petani dan masyarakat pedesaan,” ujar Said.

Lebih lanjut, Said mengatakan orang Bogor setuju pentingnya peran  pertanian, bahkan 86 persen orang muda  menganggap pertanian menjadi sektor yang menjanjikan di masa depan. “Salah satu cara mendukung sektor pertanian adalah mengkonsumsi produk pangan lokal yang dihasilkan oleh petani secara langsung,” ujar Said.

Informasi yang diperoleh riset kecil dari perkumpulan PIKUL mengungkapkan geliat orang muda pedesaan di wirausahan kreatif pertanian pangan makin menguat. “Namun sayangnya, geliat ini masih didominasi oleh laki-laki muda dan rendahnya minat perempuan pedesaan menjadi petani. Pasalnya, lemahnya akses perempuan muda terhadap tanah, pengetahuan, teknologi dan manfaat pertanian, mendorong pertanian untuk meninggalkan dunia pertanian,” kata Torry Kuswardono Direktur PIKUL.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *