Ragam  

“Bimo Seno Kridho” dalam Pengukuhan Pengurus Pepadi Wilayah Jakarta Timur-Bekasi

BEKASI, POROS NUSANTARA ~ Kesenian wayang kulit nampaknya tidak akan luluh oleh kesenian modern apapun yang datang dari manca negara. Fakta ini bisa kita lihat dari perkembangan seni pertunjukan yang selalu ditonton dan dijejali oleh tiga generasi, yakni kaum tua (sepuh), muda, dan anak-anak.

Tidak hanya di tanah air, di berbagai belahan dunia pun seni pewayangan ini makin digemari, khususnya musik pengiringnya yakni karawitan atau gamelan, bahkan telah mendapat apresiasi tertinggi. Musik tradisional dari Jawa ini telah menjadi pelajaran ekstrakulikuler maupun tetap di taman-taman pendidikan menengah dan perguruan tinggi bergengsi di berbagai negara.

Boleh menjadi suatu kekuatiran jika tontonan wayang kulit hanya didominasi generasi tua saja. Begitupun perkembangan pelaku seninya yakni dalang juga cukup menggembirakan. Sekarang terus bermunculan dalang-dalang muda berkarakter yang begitu terampil memainkan wayang (sabetan), dan cakap dalam melakonkan tokoh-tokohnya. Seolah tokoh yang diperakan itu hidup sungguhan sesuai karakter si tokoh wayang. Sang dalang sangat mahir mendramatisasi cerita dari tokoh-tokoh tertentu sehingga penonton ikut larut emosionalnya, terhadap tokoh yang sedang diperankan itu.

Semisal tokoh itu sebenarnya sangat jujur tetapi justru ditimpa penderitaan karena didzolimi (difitnah), atau sang tokoh marah besar kepada lawan-lawannya yang membuat huru-hara di negara atau kerajaan tempatnya tinggal (mengabdi), dengan gagah berani maju perang di medan laga dan pantang mundur, demi membela kebenaran sejati. Apalagi dalam hal asmara, sang dalang pun sangat mahir mendramatisasi percintaan sepasang kekasih dengan begitu apik, penonton pun ikut hanyut seolah mereka merasakan sendiri kebahagiaan tersebut dengan kekasihnya.

BACA JUGA  KOMBATAN: KAMI DUKUNG JOKOWI JADI PRESIDEN 2 PERIODE

Demikian dituturkan Wahyu Darma S, beberapa waktu sebelum acara pengukuhan pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Wilayah Jakarta Timur-Bekasi berlangsung.

Masih lanjut Wahyu yang juga dalang dan pengusaha ini, di sisi berikutnya juga kini bermunculan dalang anak-anak (bocah). Jadi lengkap sudah kata dia, wayang ditonton generasi muda dan dipelaku seninya yakni dalang juga terjadi regenerasi yang bagus. “Inilah tongkat estafet seni pewayangan yang akan langgeng. Maka pantas kiranya Unesco memberikan predikat Wayang Kulit sebagai warisan budaya dunia,” ujarnya bangga pada Poros Nusantara di sanggar Putro Dahono, Jumat, (21/4).

Linier dengan hal tersebut sambung Wahyu yang saat itu didampingi Ketua Pepadi Wilayah Jakarta Timur-Bakasi, Agus Joko Riyanto, dikatakan sekarang pun sanggar-sanggar karawitan yang notabene sebagai pengiring berlangsungnya pagelaran wayang kulit juga mengalami perkembangan yang menggembirakan. Dengan munculnya banyak sanggar baru di berbagai wilayah di indonesia, khususnya di wilayah Jabodetabek.

Hal-hal tersebutlah yang menjadi tanggung jawab pengurus Pepadi untuk terus membina dan mengayubagya keberadaannya untuk tetap bereksistensi. Khususnya Pepadi wilayah Jakarta Timur dan Bekasi yang semalam, Senin, (30/4) dikukuhkan oleh Pepadi DKI Jakarta.

BACA JUGA  Potret 2 Tahun Kepemimpinan Yusuf Lubis – Atos Pratama Oleh Ekie Noprismond,.SY,SH.

Dalam pengukuhan tersebut sebagai apresiasi seni yang adiluhung ini, tak ketinggalan dipentaskan tiga dalang sekaligus. Bertempat di alun-alun Marakash Square, Sektor V, Pondok Ungu, Bekasi. Lakon “Bimo Seno Kridho” pun pentaskan dengan ciamik oleh Ki Bambang Asmoro, S.Sn, Ki Wahyu Darma S dan Ki Bambang Kumoro.

Ketua Pepadi Jakarta Timur-Bekasi Agus Joko Riyanto yang didampingi Wakilnya Ki Wahyu Darma S, sebelum pagelayan wayang semalam suntuk dimulai, menyampaikan bahwa pihaknya akan terus berupaya menjalankan peran dan fungsi organisasinya, diantaranya agar dalang-dalang lebih tertata lagi dan kehidupannya mendapat perhatian sehingga aset bangsa ini bisa bertahan kedepanya, sekaligus tetap menjadi daya tarik dalang-dalang muda di seluruh nusantara.

”Kalau bukan cinta dan peduli dengan kesenian wayang kulit ini, saya mungkin tidak pernah mau untuk duduk di organisasi sosial ini. Tetapi karena saya sangat mencintai wayang, maka saya terima amanah ini dengan senang hati semoga kami bisa bersumbangsih terhadap kemajuan seni pewayangan yang sudah menjadi milik dunia ini,” jelasnya.

Acara pengukuhan tersebut juga dihadiri Ketua Pepadi Pusat H. Kondang Sutirno beserta jajaran dan Pengurus Pepadi DKI Jakarata.

Terlepas dari seremonial acara pengukuhan pengurus Pepadi. Pastinya dalam pentas wayang kulit yang merupakan tontonan sekaligus bermisi tuntunan (ditiru) perbuatan baiknya, sehingga apapun lakon ceritanya, di setiap akhir satu kisah atau tancep kayon, sang dalang selalu memenangkan secara moral tokoh baik, dan menumbangkan sang buruk. Walau diawal atau pertengahan cerita sang buruk tampak dramatis dan digjaya. Namun, mencapai suatu kemenangan dengan cara baik memang tidak pernah mudah!

BACA JUGA  Ketua DPR Apresiasi Prestasi Olaharaga Nasional

Begitu pentas wayang kulit malam tadi, Selasa, (1/5), tetap menyajikan tontonan sekaligus tuntunan ini, ibarat kisah jelujur kehidupan manusia. Kehidupan sehari-hari kita sendiri. Dimana di setiap ruang dan waktu selalu ada tokoh baik dan buruk, kisah suka dan sedih, serta cerita kejayaan dan kejatuhan yang datang silih berganti. Tetapi pada ujungnya, hanya manusia-manusia yang mampu menjaga akal budi dalam hidupnya, serta selalu ingat dan waspada yang bisa selamat dan hidup bahagia. (Slamet Wijaya).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *