Muhammadiyah Perkuat Dakwah Kultural Melalui Seni Budaya, Fadli Zon Dorong Kolaborasi Majukan Kebudayaan Nasional

Porosnusantara.co.id | Jakarta – Seni dan budaya dinilai memiliki peran penting tidak hanya sebagai bentuk ekspresi kreativitas, tetapi juga sebagai sarana membangun peradaban, memperkuat nilai dakwah, serta menjaga identitas kebudayaan bangsa. Hal tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Seni dan Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berlangsung di kawasan Cikini, Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Rakernas yang mengusung tema “Membumikan Dakwah Berkemajuan, Mengembangkan Ekosistem Seni dan Budaya yang Kreatif dan Inklusif” tersebut dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir serta Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon.

Dalam kesempatan itu, Haedar Nashir menegaskan bahwa seni budaya memiliki posisi strategis dalam dakwah kultural Muhammadiyah. Menurutnya, seni mampu menyentuh aspek rasa dan jiwa manusia sehingga dapat menjadi media dakwah yang inklusif serta menjangkau berbagai lapisan masyarakat tanpa melihat latar belakang agama, suku, maupun golongan.

“Seni dan budaya menjadi bagian penting dari peradaban bangsa. Ketika kita mengembangkan seni budaya, sesungguhnya kita sedang membangun kebudayaan yang pada akhirnya melahirkan peradaban umat manusia,” ujar Haedar.

Ia menjelaskan, sejak konsep dakwah kultural diperkenalkan Muhammadiyah pada 2002, organisasi tersebut terus berupaya membangun pemahaman bahwa seni dan budaya dapat menjadi media dakwah yang mencerahkan. Melalui seni, nilai-nilai kemanusiaan dapat ditanamkan sekaligus membangun kedekatan manusia dengan Tuhan.

Haedar mencontohkan sejumlah karya dan aktivitas budaya yang menjadi bagian dari identitas Muhammadiyah, seperti lagu Sang Surya, seni drum band, hingga bela diri Tapak Suci. Menurutnya, berbagai ekspresi budaya tersebut telah memperkuat solidaritas warga Muhammadiyah dan dikenal hingga tingkat internasional.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengajak Muhammadiyah untuk terus memperkuat kolaborasi dalam upaya memajukan kebudayaan nasional. Menurutnya, berdirinya Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian tersendiri menjadi momentum penting untuk mempercepat pelestarian dan pengembangan budaya Indonesia.

Fadli menegaskan bahwa negara memiliki amanat konstitusi untuk memajukan kebudayaan nasional sebagaimana tertuang dalam Pasal 32 Ayat (1) UUD 1945. Ia menyebut Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, mulai dari ribuan warisan budaya tak benda, ratusan cagar budaya nasional, hingga berbagai museum yang menjadi aset bangsa.

“Saya sudah berkeliling ke lebih dari 100 negara dan belum menemukan kekayaan budaya yang melebihi Indonesia,” kata Fadli.

Ia juga menyampaikan bahwa berbagai temuan arkeologi semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban dunia. Beberapa di antaranya adalah temuan lukisan gua tertua di Pulau Muna serta artefak Islam awal di Bongal, Tapanuli Tengah, yang menunjukkan jejak kehadiran Islam di Nusantara sejak abad ke-7 Masehi.

Dalam kesempatan tersebut, Fadli menegaskan bahwa Islam dan kebudayaan tidak memiliki pertentangan. Menurutnya, sejarah perkembangan Islam di Nusantara menunjukkan adanya proses dialog budaya, akulturasi, dan pendekatan seni yang tetap berlandaskan nilai-nilai tauhid.

“Film, musik, seni pertunjukan, kaligrafi, arsitektur masjid, hingga tradisi lokal dapat menjadi media dakwah yang efektif. Budaya adalah kekuatan lunak (soft power) yang harus terus dikembangkan,” tegasnya.

Fadli juga membuka peluang kerja sama antara Kementerian Kebudayaan dengan LSB PP Muhammadiyah melalui berbagai program, seperti Dana Indonesiana, pengembangan festival seni, serta Santri Film Festival sebagai wadah kreativitas generasi muda dalam menyampaikan pesan kebangsaan dan nilai keagamaan.

Rakernas LSB PP Muhammadiyah diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara pemerintah dan Muhammadiyah untuk mengembangkan seni budaya sebagai sarana dakwah, pemberdayaan masyarakat, sekaligus memperkokoh identitas dan peradaban bangsa Indonesia.

Penulis: Supriyadi Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *