Porosnusantara.co.id, Singkawang – Warga Thionghoa Kota Singkawang, sudah seminggu ini berbondong Bondong melakukan sembahyang Kubur Cengbeng. Tradisi Sembahyang Kubur Cengbeng (Bahasa Hokkian) dan Chin Min (dalam bahasa Hakka) adalah tradisi warga Thionghoa yang dilakukan setahun dua kali. Salah satu pemuda Thionghoa Indra Puiyanta Alias Afen menuturkan bahwa tujuan.
Sembahyang kubur Cengbeng adalah mendoakan arwah leluhur yang sudah meninggal dunia. Memuja serta mengenang atas kebaikan dan jasa jasa leluhur adalah bhakti dan sebagai penghormatan kepada leluhur yang tidak boleh dilupakan. Adapun wujud bhakti yang harus dilakukan yaitu seperti bersih2 makam atau kuburan orang tua/ saudara yg telah meninggal dunia.
“Karena para leluhur kita telah membesarkan, mendidik kita hingga kita ini dewasa hingga menjadi manusia yang sukses. Maka sudah sepatut nya arwah arwah leluhur ini kita doakan. Dan semoga saja arwah nya diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa” ujar
Pemuda yang biasa disapa Afen ini. Sembahyang kubur kata Avent sudah menjadi tradisi sejak lima ribuan tahun silam. Sebagai generasi penerus maka Sembahyang kubur Cengbeng, terus dilakukan setiap tahun dibulan Maret- April, dan hanya dalam rentang waktu 15 hari, kata Afen.
Sembahyang kubur yang Kedua adalah tradisi Cio ko, Si Ku atau Sembahyang rampas, Ulambhanna (Budha). Dan yang jatuh pada bulan Agustus dan selama 15 hari. Adapun makna dari upacara Si Ku, adalah memberikan doa kpd arwah2 leluhur, orang tua, Saudara dan arwah2 gentayangan yg terlantar. Yg mati belum saatnya /kecelakaan, agar. Arwahnya dapat cepat reinkarnasi atau lahir kembali.
“Tradisi ini tiap tiap daerah bisa bervariasi, ada upacara sembahyang dgn sesajian yang siap diperebutkan atau dirampas. Ada juga tradisi yang menyediakan kapal layar yg diisi sesajian untuk dibakarkan dipantai laut, dan atau dilapangan terbuka” ujar Afen.






