Porosnusantara.co.id – JAKARTA | Acara pertemuan keluarga besar para raja, sultan Nusantara, dan pewaris Jayakarta berlangsung khidmat pada Kamis (4/9/2025).
Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menyatukan visi dan misi menjaga jati diri bangsa serta menguatkan Indonesia menuju cita-cita sebagai negara emas yang makmur dan sejahtera.
Dalam sambutannya, perwakilan pewaris Jayakarta menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara tersebut. Ia juga memberikan apresiasi kepada panitia yang telah bekerja keras, meski harus mengorbankan waktu dan tenaga.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada panitia dan semua pihak yang mendukung kegiatan ini. Semoga semangat ini terus berlanjut demi melestarikan kearifan lokal Jayakarta,” ujarnya.
Pewaris Jayakarta menegaskan bahwa sejak tahun 2004, berbagai pihak telah berupaya menjaga serta melestarikan warisan budaya Betawi agar dapat diakui dunia.
“Harapan kami, kearifan lokal Jayakarta bisa menuju pengakuan UNESCO. Kami akan terus bekerja sama dengan unit dan museum-museum di kawasan Kota Tua untuk mewujudkan hal tersebut,” tambahnya.
Acara ini juga bertepatan dengan sewindu (8 tahun) masa bakti Adipati Jayakarta dan sewindu kehormatan Pusaka Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, pewaris Jayakarta menyinggung pentingnya gelar kepemimpinan bagi tokoh-tokoh yang memimpin Jakarta.
“Seorang pemimpin di Jakarta harus memiliki gelar yang menjadi pegangan hidup, sebagai simbol kearifan dan amanah leluhur. Gelar ini bukan sekadar penghargaan, tetapi juga pedoman moral,” jelasnya.
Ia kemudian menyampaikan pesan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun sejak abad ke-15, mulai dari Samudra Pasai, Mataram, hingga Jayakarta. Pesan itu berisi lima prinsip utama bagi masyarakat Betawi dan umat Islam:






