Menurut Presidium, perubahan jadwal tersebut berkaitan dengan sejumlah kendala agenda dan belum tersedianya kehadiran pihak terkait. Pada 8 Oktober, mereka kembali menerima informasi bahwa pertemuan diminta ditunda hingga pekan berikutnya, dengan harapan pimpinan BGN dapat hadir dalam dialog lanjutan.
Presidium berharap penjadwalan ulang tersebut tidak kembali menghambat pembahasan persoalan yang menyangkut keberlanjutan usaha, status kemitraan, dan investasi para mitra. Mereka meminta adanya jadwal pertemuan yang pasti serta agenda pembahasan yang menghasilkan langkah penyelesaian konkret.
Mitra di Wilayah 3T Minta Kepastian
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Gizi Indonesia (APGI) 3T, Herwil Junaidi Harefa, mengatakan para mitra, terutama yang berada di wilayah 3T, menghadapi tekanan finansial dan sosial akibat ketidakpastian operasional SPPG.
Kami hanya ingin komunikasi. Kami ingin Presiden turun ke tengah-tengah rakyat dan mendengar jeritan hati kami. Kami adalah mitra dan rakyat Indonesia yang telah menginvestasikan harta kami sendiri untuk mendukung program ini,” kata Herwil dalam orasinya.
Ia menegaskan, apabila kemitraan tidak dapat dilanjutkan, pemerintah perlu menyediakan mekanisme penyelesaian investasi yang jelas dan sesuai ketentuan. Menurutnya, perubahan petunjuk teknis dan kebijakan juga perlu dikomunikasikan kepada mitra karena berdampak langsung terhadap keberlangsungan usaha dan operasional dapur.
“Kalau memang negara tidak menghendaki kami lagi untuk mengelola, kembalikan nilai investasi kami. Kami siap menyerahkan pengelolaannya kepada pemerintah. Yang kami minta adalah jangan biarkan rakyat yang sudah berinvestasi ini menderita,” tegasnya.
“Kalau memang negara tidak menghendaki kami lagi untuk mengelola, kembalikan nilai investasi kami. Kami siap menyerahkan pengelolaannya kepada pemerintah. Yang kami minta adalah jangan biarkan rakyat yang sudah berinvestasi ini menderita,” tegasnya.






