Porosnusantara.co.id |Jakarta – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) dini hari. Gempa yang berpusat di sekitar Kabupaten Nagekeo tersebut menimbulkan kerusakan di sejumlah wilayah dan menyebabkan korban jiwa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada pukul 04.58.24 WIB. Episentrum berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut disebabkan aktivitas sesar naik (thrust fault).
Gempa kuat tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami. BMKG kemudian mengakhiri peringatan tersebut pada pukul 07.30 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi telah aman. Meski demikian, masyarakat di wilayah terdampak tetap diimbau waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Dampak gempa meluas ke sejumlah wilayah di Pulau Flores. Kabupaten Nagekeo menjadi salah satu daerah yang berada paling dekat dengan pusat gempa, sementara kerusakan dan korban juga dilaporkan terjadi di Sikka, Manggarai, dan Manggarai Timur.
Data BNPB yang terus diperbarui menunjukkan jumlah korban meninggal dunia mencapai 53 orang. Proses pendataan korban dan kerusakan masih dilakukan oleh petugas di lapangan.
Sementara itu, berdasarkan laporan BPBD NTT hingga Senin (17/8), sebanyak 7.968 rumah warga mengalami kerusakan akibat gempa. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum dan infrastruktur di sejumlah daerah terdampak.
Sebelumnya, BNPB mencatat 2.403 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 1.543 rumah rusak berat, 328 rusak sedang, dan 532 rusak ringan. Data tersebut kemudian terus mengalami pemutakhiran seiring proses asesmen di lapangan.
Selain bangunan rumah, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, gedung pemerintahan, serta sejumlah infrastruktur turut terdampak. Kondisi di beberapa wilayah juga diperparah oleh longsor yang menghambat akses menuju lokasi terdampak.
Gempa kuat yang terjadi pada dini hari membuat warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Sebagian masyarakat memilih mengungsi ke lokasi yang dianggap lebih aman karena khawatir terhadap gempa susulan dan potensi tsunami.
BNPB mencatat ribuan warga terdampak dan mengungsi. Dalam pemutakhiran data yang disampaikan pada Minggu (16/8), tercatat sekitar 9.963 orang mengungsi dan 1.528 kepala keluarga terdampak.
Pemerintah bersama tim gabungan kemudian melakukan evakuasi, pendataan, distribusi bantuan logistik, serta penanganan warga yang membutuhkan pertolongan.
BMKG juga mencatat aktivitas gempa susulan setelah gempa utama. Pada tahap awal, hingga Sabtu siang, tercatat 235 aktivitas gempa susulan di wilayah sekitar utara Flores.
Aktivitas tersebut terus berkembang. BMKG kemudian mencatat ribuan gempa susulan, termasuk gempa dengan magnitudo di atas 5 dan sejumlah gempa yang dirasakan masyarakat. Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap waspada.
BMKG menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan lembaga berwenang. Warga juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan dan berpotensi roboh.
Penanganan pascagempa dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, Basarnas, BNPB, BPBD, serta berbagai unsur terkait.
BNPB menginstruksikan sejumlah langkah strategis untuk mempercepat penanganan darurat, termasuk evakuasi dan pencarian korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pembukaan akses wilayah terdampak, serta percepatan pendataan kerusakan.
TNI juga mengerahkan personel dan dukungan sarana transportasi untuk membantu penanganan masyarakat terdampak gempa. Upaya tersebut dilakukan untuk menjangkau sejumlah wilayah yang aksesnya mengalami gangguan akibat kerusakan maupun longsor.
Kepala BNPB bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) juga turun langsung ke wilayah terdampak untuk melihat kondisi masyarakat serta memastikan bantuan darurat dapat disalurkan.
Gempa M7,7 di Flores menjadi salah satu bencana gempa besar yang berdampak signifikan di Indonesia sepanjang 2026. Selain menimbulkan korban jiwa, bencana tersebut menyebabkan kerusakan bangunan dan memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang tidak berasal dari sumber resmi, terutama terkait prediksi gempa. Sebelum gempa terjadi, sempat beredar informasi mengenai prediksi gempa besar pada 15 Agustus 2026 pada waktu tertentu. BMKG menegaskan informasi tersebut tidak benar karena gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat mengenai waktu, lokasi, dan kekuatannya.
Pemerintah dan tim gabungan hingga kini masih melakukan penanganan serta pemutakhiran data di sejumlah wilayah terdampak. Masyarakat diimbau tetap tenang, mengikuti arahan petugas, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.






