Sementara itu, pasar olahraga dunia berkembang jauh lebih cepat. Berbagai laporan industri internasional yang dirangkum dalam IPO 2024 memperkirakan nilai industri olahraga global telah mencapai sekitar USD600 miliar dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 8 persen. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya investasi pada hak siar, sport tourism, pusat kebugaran, teknologi olahraga, serta ekonomi digital.
Indonesia sebenarnya telah membuktikan bahwa olahraga mampu menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan. Kementerian Pemuda dan Olahraga mencatat penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025 menghasilkan dampak ekonomi nasional sekitar Rp4,96 triliun, menarik lebih dari 140 ribu penonton, melibatkan lebih dari 600 UMKM, serta menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja lokal. Selain meningkatkan okupansi hotel dan kunjungan wisatawan, kegiatan tersebut juga mendorong pertumbuhan sektor transportasi, perdagangan, kuliner, dan jasa lainnya di Nusa Tenggara Barat.
Namun, berbagai capaian tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam statistik ekonomi nasional. Indonesia hingga kini belum memiliki Sport Satellite Account (SSA) sebagaimana telah diterapkan di berbagai negara maju. Padahal, menurut kerangka System of National Accounts (SNA) yang digunakan World Bank dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kontribusi suatu sektor terhadap perekonomian seharusnya diukur berdasarkan nilai tambah bruto (Gross Value Added/GVA), bukan sekadar nilai transaksi. Pendekatan ini memungkinkan pemerintah mengetahui kontribusi riil industri olahraga terhadap PDB tanpa terjadi penghitungan ganda.
Karena itu, pemerintah perlu mulai menyusun Sport Satellite Account Indonesia melalui kolaborasi antara Badan Pusat Statistik, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pelaku industri. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa sistem ini mampu menghasilkan statistik ekonomi olahraga yang lebih akurat sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).






