PBB di Indonesia Ajak Anak Muda Perkuat Aksi Iklim Lewat The Green Community Festival

Kompetisi Ide Iklim untuk Pelajar

Salah satu agenda utama dalam festival ini adalah pengumuman pemenang Cool School Challenges, sebuah kompetisi yang mendorong pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di seluruh Indonesia untuk menghadirkan gagasan dan aksi nyata dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih berkelanjutan.

Program tersebut berhasil menjaring sebanyak 76 karya dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi, terpilih 15 finalis yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Aceh, dan Nusa Tenggara Barat.

Berbagai inovasi yang diajukan peserta mencakup penghijauan sekolah, pengelolaan sampah, pertanian perkotaan, penghematan energi, kampanye lingkungan, hingga solusi berbasis komunitas dalam menghadapi perubahan iklim.

Menurut Miklos Gaspar, antusiasme para pelajar menjadi bukti bahwa generasi muda telah mengambil peran aktif dalam menghadapi tantangan lingkungan.

“Ke-76 karya tersebut menunjukkan bahwa generasi muda tidak menunggu orang lain untuk bertindak. Mereka sudah memulainya dari sekolah dan komunitas mereka sendiri. Itu memberi kita harapan,” katanya.

Dalam kompetisi tersebut, SMA Al Umanaa Boarding School dari Sukabumi, Jawa Barat, berhasil meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati Sekolah Santa Ursula Jakarta, sementara SMAN 1 Bekasi meraih juara ketiga.

PBB di Indonesia menyampaikan apresiasi kepada seluruh finalis dan sekolah peserta atas kreativitas, komitmen, serta kepemimpinan mereka dalam mengembangkan berbagai inisiatif aksi iklim.

Melalui peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, PBB kembali mengingatkan bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti menanam pohon, mengurangi sampah, menghemat energi, memilih pola konsumsi yang lebih berkelanjutan, serta memberikan perhatian kepada kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Namun demikian, pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah bahwa waktu untuk bertindak semakin terbatas. Keputusan dan tindakan yang dilakukan saat ini akan menentukan tingkat ketahanan lingkungan dan kualitas kehidupan generasi mendatang.

Penulis: Rudi CoyEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *