Porosnusantara.co.id | Jakarta — Koordinator Aliansi Rakyat Menggugat (ARM), Menuk Ulandari, menegaskan bahwa aksi yang dilakukan pihaknya pada Rabu, 28 Januari 2026, berlangsung damai dan sebatas menyerahkan buku kepada bagian administrasi. Ia menilai respons aparat kepolisian terhadap kegiatan tersebut berlebihan.
“Sebetulnya polisi tidak perlu lebay. Kami hanya datang menyerahkan buku ke bagian administrasi dan hanya bertemu dengan pihak administrasi,” ujar Menuk kepada wartawan usai kegiatan tersebut, Rabu (28/1/2026).
Menuk menjelaskan, buku berjudul Gibran End Game yang diserahkan bukanlah bentuk provokasi, melainkan bagian dari upaya intelektual untuk mendorong keterbukaan publik. Ia juga menyinggung soal kapasitas kepemimpinan nasional yang, menurutnya, perlu diketahui secara jelas oleh masyarakat.
“Saya yakin membaca novel bukan hobi Fufu Fafa atau Gibran. Tapi ini bukan soal hobi. Ini soal bagaimana kita mengetahui kapasitas pemimpin kita,” tegasnya.
Lebih lanjut, Menuk menegaskan bahwa ARM tidak akan pernah berhenti memperjuangkan tuntutan agar ijazah Gibran Rakabuming Raka dipublikasikan secara terbuka.
“Kami akan terus menuntut ijazah Gibran untuk dipublikasikan. Jangan sampai kita mendapatkan pemimpin yang tidak jelas, karena taruhannya adalah anak-anak kita,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai keyakinan apakah buku yang diserahkan akan dibaca oleh pihak terkait, Menuk mengaku tidak terlalu optimistis. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan langkah ARM.
“Sejujurnya kami tidak yakin. Mereka adalah orang-orang yang menutup telinga dan mata demi kepentingan mereka sendiri. Tapi kami tidak akan berhenti, demi masa depan pendidikan anak-anak kita,” pungkasnya






