Ketua Umum Pasukan Canga Muda Obi Selatan Jefry Daeng SH.MTh: Kerusakan Lingkungan Alam Kepulauan Obi Meningkat, Tambang Nikel Menjadi Ancaman Serius.
Jakarta. Porosnusantara co id – Ketua Umum Pasukan Canga Muda Obi Selatan Jefry D Tanamal SH.MTh menegaskan bahwa kondisi hutan Obi saat ini berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Ia menilai, kerusakan hutan akibat ekspansi tambang dan praktik penebangan yang tak terkendali telah membuat Kepulauan Obi yang selama ini dikenal sebagai paru-paru dunia kian “sesak” dan terancam kehilangan fungsi ekologisnya.
Menurutnya, persoalan ini bukan hanya isu lingkungan, melainkan telah menjadi krisis kemanusiaan dan penegakan hukum yang menuntut sikap tegas negara terhadap pelaku perusakan alam. Pulau Obi, yang selama berabad-abad dijuluki sebagai “Paru-Paru Dunia”, kini berada dalam kondisi kritis. Data satelit terbaru dan laporan lapangan menunjukkan bahwa laju kerusakan hutan akibat ekspansi pertambangan skala besar serta penebangan kayu secara masif telah mengubah wajah hijau pulau ini menjadi hamparan tanah cokelat yang gersang.
Kerusakan paling signifikan terlihat diWilayah Obi Induk (Kawasi) dan yang lainnya Hutan hujan tropis yang menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna kini terfragmentasi. Pertambangan, baik yang memiliki izin maupun ilegal, telah membuka akses jalan jauh ke dalam jantung rimba, memicu degradasi tanah yang parah.
Lanjut Jefry sektor pertambangan, terutama tambang nickel meninggalkankerusakan alam (hutan) di pulau Obi yang sangat memperihatinkan jika Pemerintah tidak mengawasi secara berkelanjutan mengenai reklamasi. Tidak hanya itu tapi ditambah lagi dengan limbah industri nickel. Jika ini tidak diantisipasi dengan baik maka bencana kemanusiaan yang sangat besar akan dialami masyarakat setempat (Obi). Jelasnya
Dampak dari hilangnya tutupan hutan ini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat setempat: Bencana Ekologis: Banjir bandang yang kini menjadi tamu rutin setiap musim hujan. Tanpa akar pohon yang menahan air, limpasan hujan langsung menuju pemukiman.
Kehilangan Keanekaragaman Hayati: Habitat burung Nuri, burung Gagak kian langkah, burung gagak yang merupakan pemakan hama di pohon-pohon kelapa sekarang sudah hampir tak terlihat dampaknya banyak pohon kelapa warga lokal tidak berbuah karena hama kelapa merajalela. Ucapnya.
Mulai terlihat krisis Air Bersih: Sungai-sungai besar di pulau Obi mulai dirusak dan diubah bentuknya untuk kepentingan industri dan tanpa memperdulikan kehidupan masyarakat Obi yang mana sungai-sungai tersebut mereka jaga dan lestarikan bertahun-tahun untuk kebutuhan sehari-hari mereka.
”Dulu hutan ini sangat lebat, kami tidak pernah kekurangan air bersih. Sekarang, kalau hujan sedikit saja sudah banjir, dan kalau kemarau, sungai kami keruh dan kering,” ujar Jefry
Meski pemerintah telah mengeluarkan kebijakan moratorium hutan dan kewajiban reklamasi pascatambang, implementasi di lapangan dinilai masih sangat lambat. Banyak perusahaan yang meninggalkan konsesi mereka begitu saja setelah mengeruk kekayaan alam tanpa melakukan pemulihan ekosistem. Para aktivis lingkungan mendesak adanya penegakan hukum yang lebih tegas terhadap korporasi nakal serta penguatan hak kelola hutan bagi masyarakat adat yang terbukti lebih mampu menjaga kelestarian alam secara turun-temurun. Tutupnya
Pewarta: NG Siat Fong








