Haidar Alwi: Fenomena Bendera One Piece Adalah Alarm, dan Sufmi Dasco Ahmad Sudah Menyalakannya

Ia menambahkan, banyak elite politik hari ini terlalu fokus pada isu besar yang viral, tapi abai terhadap isu kecil yang merusak dari dalam. Padahal, justru hal kecil seperti simbol, bahasa, dan visualisasi publik itulah yang membentuk arah psikologi kolektif. “Kita bisa kehilangan orientasi jika simbol-simbol bangsa mulai digantikan oleh tokoh-tokoh asing yang tidak merepresentasikan nilai-nilai kita,” tegasnya.

Solusi: Bangun Imajinasi Nasional, Bukan Hanya Melarang

Meski mengapresiasi kewaspadaan terhadap simbol asing, Haidar Alwi juga mengingatkan bahwa solusi tidak cukup dengan melarang atau mencela. Yang lebih penting adalah membangun rasa bangga terhadap simbol bangsa melalui pendekatan kreatif, edukatif, dan inspiratif. Ia mendorong lahirnya karakter fiksi lokal yang kuat, film nasionalis berkualitas, dan konten budaya digital yang mampu menandingi daya tarik budaya luar.

“Kita tidak boleh hanya jadi pasar simbol. Kita harus mulai memproduksi imajinasi sendiri. Kalau Jepang punya Luffy, kenapa Indonesia tidak bisa punya karakter pahlawan lokal yang digemari dunia?” ungkapnya.

Menurut Haidar Alwi, generasi muda tidak salah karena menyukai anime, tapi negara akan salah jika tidak menyediakan alternatif yang membanggakan.

Ia menegaskan bahwa peringatan Dasco harus dijadikan titik tolak pembenahan, bukan polemik. Sebab bangsa besar tidak hanya mempertahankan tanahnya, tapi juga imajinasi anak-anaknya. “Kalau simbol negara bisa digeser oleh simbol fiksi, maka arah berpikir bangsa ini akan digiring tanpa sadar,” katanya lagi.

Haidar Alwi menekankan bahwa menjaga Merah Putih bukan sekadar soal ketaatan hukum, tetapi soal kesadaran kolektif untuk mempertahankan makna. “Dalam dunia yang serba cepat ini, kita butuh pemimpin yang tidak hanya melihat apa yang terjadi, tapi memahami arah ke mana kita dibawa. Dan saya melihat peringatan Pak Dasco sebagai suara yang menyalakan alarm tepat waktu,” pungkas Haidar Alwi.

Penulis: AXSEditor: Axnes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *