Perang Kota Antara Cinta Dan Pengkhianatan Di Tengah Kobaran Api Kemerdekaan

 

Selain itu, Mouly juga membuat pilihan artistik yang menarik dengan menggunakan aspek rasio gambar 4:3, sebuah format yang memberikan nuansa klasik dan membedakan Perang Kota dari film-film modern yang umumnya menggunakan format layar lebar. Keputusan ini semakin mempertegas latar waktu dan atmosfer historis yang ingin dibangun dalam film.

 

Tidak hanya berfokus pada kualitas teknis dan artistik, Perang Kota juga memperluas jangkauan penayangannya hingga ke kancah internasional.

 

Produser film, Fauzan Zidni, mengungkapkan ambisi tersebut dengan menyatakan, “Jadi tanggal 17 April kemarin kita sudah tayang secara komersil di Benelux, Belgia, Netherlands, dan Luxembourg, ini menjadi penting karena setelah kami premiere internasional di Rotterdam International Film Festival, kami tayang secara komersil di bioskop-bioskop di Belanda, membawa cerita Indonesia dari POV Indonesia tentang perjuangan tahun 1946”.

 

Penayangan komersial di Eropa sebelum rilis di Indonesia menunjukkan potensi universalitas tema dan kualitas produksi film ini. Lebih lanjut, Perang Kota merupakan proyek kolaborasi lintas negara yang melibatkan talenta dari Indonesia, Singapura, Belanda, Prancis, Norwegia, Filipina, dan Kamboja.

 

Tahap pascaproduksi film ini dikerjakan oleh tim dari berbagai negara, termasuk pengerjaan tata suara yang dilakukan di Prancis dan penyempurnaan efek visual di Amerika Serikat, menunjukkan skala produksi dan ambisi internasional dari film ini.

 

Dengan dukungan teknologi suara mutakhir Dolby Atmos, Perang Kota menjanjikan sebuah pengalaman sinematik yang imersif dan mendalam bagi para penonton, baik di Indonesia maupun di mancanegara, dalam mengenang dan menghargai perjuangan kemerdekaan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *